Ibu saya, meskipun jauh dari dunia glamor musik modern ternyata menaruh perhatian terhadap selera musik anaknya. “Idolamu meninggal, kasihan ya!” demikian kata beliau saat mendengar Michael Jackson berpulang.
Mungkin saya bukanlah fans fanatik Michael Jackson tetapi saya adalah orang yang secara sadar angkat topi untuk dia. Dia mengajarkan bahwa peran bisa dijalankan lewat apa saja. Yang terpenting adalah totalitas. Meski tidak semua kiprahnya menginspirasi, saatnya berfokus pada kebaikannya karena porsi untuk menghakimi kini bukan lagi milik kita. Selamat jalan Michael.
Made Kondang pening kepalanya memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dia yang kisah hidupnya tak pernah istimewa, tiba-tiba menjadi perhatian. Entah apa alasannya, Made Kondang terpilih menjadi Kelian Banjar, sebuah profesi yang bahkan tak pernah dimimpikan oleh leluhurnya akan disandang oleh anak cucu mereka. Singkat kata, Kondang yang adalah rakyat jelata, lahir dari rahim ibu yang tak kenal kata ‘leadership’ kini tergagap-gagap menjadi pejabat.
Dari awal saya berkeyakinan bahwa kita, mahasiswa Indonesia, yang ada di University of Wollongong memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu yang baik. Di sisi lain, kita memiliki kerinduan yang sama untuk menjaga persahabatan di negeri rantau. Kemarin, Jumat tanggal 5 Juni 2009, sekitar 45 orang mahasiswa berkumpul dan telah mengambil satu langkah maju.
Saya berterima kasih kepada semua pihak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) UoW periode 2009-2010. Kepercayaan ini bagi saya adalah amanah yang harus dijunjung tinggi. Melihat antusiasme teman-teman dalam acara kemarin, saya optimis kita akan mampu bekerjasama menghasilkan sesuatu yang baik. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Sdr. Yudhistira Rifki atas pengabdiannya sebagai Presiden PPIA periode lalu.
Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.
September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.
Tiga puluh satu tahun lalu, lembar pertama buku sejarah diri saya dimulai. Dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Desa Tegaljadi, tak banyak mimpi yang digantungkan tentang saya oleh orang tua dan kerabat ketika itu. Kelahiran saya jauh dari persiapan menghadapi masa depan dengan asuransi, jauh juga dari kerlip blitz kamera karena memang bukan bagian dari kehidupan orang tua saya. Kelahiran saya, seperti halnya kelahiran bayi-bayi lain di desa itu, adalah satu saja dari sekian banyak. Sama sekali tidak istimewa.
Tak terhitung banyaknya hal yang terjadi dalam hidup saya hingga kini. Tak semuanya istimewa, tak semuanya layak dicatat. Saat usia beranjak dewasa dan akhirnya tua, rasanya tak salah mengingat-ingat apa yang berkesan dan menjadikan saya hingga hari ini.
Suatu pagi di tahun 1984, saya berdiri di halaman SD 1 Tegaljadi bersama 4 orang lain yang sebaya usianya. “Coba ambil batu 5 biji!“, demikian Pak Ketut Merta memerintahkan. Beliau adalah kepala sekolah. Sejurus kemudian, meluncur dari mulut bijaksana beliau “coba lari ke barat!“. Saya pun mengikuti setiap perintah itu, jujur saja, dengan perasaan sedikit dongkol. Berkecamuk antara pikiran excited dan ego yang seperti dikoyak dan direndahkan. Hari itu adalah pendaftaran masuk SD, dan saya diragukan akan bisa memenuhi syarat oleh kepala sekolah. Itulah sebabnya beliau perlu membuktikan bahwa saya dapat membedakan arah timur dan barat dan terutama bisa berhitung. Di masyarakat kami di desa terpencil di Bali, tahu arah timur dan barat adalah salah satu ciri kepintaran. Karena itulah mereka yang lemah daya pikirnya dijuluki orang yang tidak tahu ‘kangin (timur) kauh (barat)’.
“I am excited to meet Shin Tay,” Lita berteriak girang saat akan saya antar ke sekolahnya. Saya baru kali ini mendengar nama temannya ini. Spontan saja saya bertanya, “is she a Chinese?” Lita juga spontan menjawab “No, Ayah. She is a girl. She is my best friend!“
Saya tercenung sesaat, menyadari betapa bodohnya pertanyaan saya pada anak yang belum lagi genap 4 tahun usianya. Mungkin sulit mencari pertanyaan yang lebih bodoh dari perihal ras kepada anak balita. Mana peduli mereka dengan ras, mana urusan mereka dengan warna kulit. Apalagi agama, mereka tak ambil pusing.
Malcolm Forbes pernah berkata, “Education’s purpose is to replace an empty mind with an open one”, bahwa tujuan pendidikan sejatinya adalah mengubah pikiran yang tadinya hampa menjadi terbuka. Forbes tidak mengatakan bahwa pendidikan dimaksudkan untuk mengisi pikiran kosong dengan segala pengetahuan, kebenaran dan apalagi doktrin atau dogma. Pandangannya jelas dan sangat bijaksana bahwa pendidikan sesungguhnya bukanlah proses menggurui atau memaksakan kebenaran pada sesoerang atau sekelompok orang.
Saya bertemu dengan banyak orang yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi di luar negeri, di universitas kenamaan. Mereka yang mengikuti proses pendidikan sambil menyelami filosofinya, berkomentar senada: pandangan mereka lebih terbuka. Terbuka akan luasnya dunia, akan beragamnya isi jagat raya dan betapa tidak mudahnya segala sesuatu. Memperoleh gelar di luar negeri ternyata tidak serta merta membuat mereka yakin dan berjalan tegak dengan dagu terangkat bahwa mereka tahu segala sesuatu. Mereka adalah pribadi-pribadi yang justru rendah hati karena semakin mengetahui kelemahan dan kekuarangannya.