<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>a madeandi&#039;s life</title>
	<atom:link href="http://madeandi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://madeandi.wordpress.com</link>
	<description>something good doesn&#039;t have to look difficult</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 12:29:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='madeandi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>a madeandi&#039;s life</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://madeandi.wordpress.com/osd.xml" title="a madeandi&#039;s life" />
	<atom:link rel='hub' href='http://madeandi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika tidak ada sinyal</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2012/01/24/ketika-tidak-ada-sinyal/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2012/01/24/ketika-tidak-ada-sinyal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 12:10:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1845</guid>
		<description><![CDATA[Dengan smartphone yang terkoneksi dengan media sosial seperti Facebook dan Twitter, seseorang betah berada di satu tempat tetapi jiwanya melayang ke mana-mana. Tidak mudah menjumpai anak muda yang berbicara dengan orang-orang tidak dikenal saat menunggu bus di halte misalnya, karena masing-masing sibuk tersenyum dan tertawa dengan handphonenya. Tidak hanya anak muda, yang tidak terlalu muda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1845&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class=" " src="http://techtickerblog.com/wp-content/uploads/2009/01/obama-blackberry.jpg" alt="" width="300" height="202" /><p class="wp-caption-text">Obama and his BB</p></div>
<p style="text-align:justify;">Dengan smartphone yang terkoneksi dengan media sosial seperti Facebook dan Twitter, seseorang betah berada di satu tempat tetapi jiwanya melayang ke mana-mana. Tidak mudah menjumpai anak muda yang berbicara dengan orang-orang tidak dikenal saat menunggu bus di halte misalnya, karena masing-masing sibuk tersenyum dan tertawa dengan handphonenya. Tidak hanya anak muda, yang tidak terlalu muda pun melakukan hal yang sama. Saya juga kerap ada dalam situasi itu: asik berbagi lewat twitter tanpa menghiraukan orang-orang di sekitar saya. Menariknya, naluri berbagi yang cukup tinggi itu justru terjadi bersamaan dengan ketidakpedulian saya pada orang-orang yang sesungguhnya secara geografis lebih dekat dengan saya pada saat itu. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama?</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1845"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Berbagi lewat Twitter atau Facebook atau media sosial lainnya menurut saya tidak salah, apalagi hal yang dibagikan itu bermanfaat. Saya paling senang berbagi informasi tentang beasiswa dan sekolah di luar negeri dan itu diminati oleh banyak orang. Masalahnya, obsesi berbagi lewat media sosial itu ternyata menurunkan semangat untuk bertegur sapa dengan orang-orang yang dijumpai di dunia nyata. Pemakai twitter bisa cukup mudah akrab dengan pengguna twitter lain yang baru ‘ditemuinya’ beberapa menit lalu di dunia maya, tetapi tidak punya energi berkenalan dengan orang di dekatnya yang sama-sama menunggu bus kota. Sekali lagi, ini bukan tuduhan pada orang lain, saya sendiri kerap mengalami dan belakangan saya sadari.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari saya ada di bengkel mobil dan iPhone saya tidak mendapatkan sinyal karena satu alasan. Artinya tidak bisa online, tidak bisa nge-twit, tidak bisa isi status di facebook. Saya mulai melihat sekitar, ternyata banyak orang. Tidak dapat sinyal membuat saya menyadari satu hal: di sekitar saya ada banyak orang. Saya menyapa seorang ibu-ibu yang juga menunggu mobilnya yang sedang diperbaiki. Awalnya beliau mungkin merasa agak aneh karena saya memulai komunikasi sementara orang lain sibuk sendiri, baca koran atau menelpon. Yang paling banyak tentu saja mereka yang tersenyum-senyum dengan Blackberry mereka. Ternyata masih banyak orang yang senang diajak ngobrol, apalagi motivasi percakapannya tulus dan wajar. Dari percakapan itu saya tahu, beliau adalah salah satu pencipta Jamu Buyung Upik yang terkenal itu. Seorang ‘penemu’ itu adalah alumni Farmasi UGM. Kalau saja hari itu saya dapat sinyal, mungkin saya akan melewatkan perkenalan penting itu karena sibuk bermesraan dengan iPhone, menyapa orang-orang dari antah berantah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu, saya ingin kembali pada kebiasaan lama: gemar menyapa orang-orang di sekitar. Bahwa nge-add orang di FB atau follow pengguna twitter atau men-circle teman di Google Plus itu pada dasarnya adalah usaha untuk menambah kenalan, menjalin silaturahim. Jika kita bisa lakukan hal yang sama di halte bus, di pasar, di lounge room bandara, di kantin, di pesawat, di kereta, mengapa tidak?! Indah sekali kalau kita bisa akrab dengan kawan di dunia maya maupun nyata. Sesungguhnya sangat asik berbagi dengan mereka yang senyumnya bisa kita lihat atau tertawanya bisa didengar. Karena ekspresi memang sesungguhnya lebih dari sekedar “wkwkwkwk” atau “LOL” dan senyum itu tidak sesederhana “tanda titik dua” dan “kurung kanan”.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/tips/'>Tips</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1845/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1845/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1845&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2012/01/24/ketika-tidak-ada-sinyal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://techtickerblog.com/wp-content/uploads/2009/01/obama-blackberry.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Prediksi Pertanyaan Wawancara ADS 2012</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2012/01/01/prediksi-pertanyaan-wawancara-ads-2012/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2012/01/01/prediksi-pertanyaan-wawancara-ads-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 15:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1832</guid>
		<description><![CDATA[Daftar pertanyaan yang saya buat ini adalah hasil ingatan masa lalu dan prediksi berdasarkan pemahaman saya secara umum terhadap maksud dan tujuan adanya beasiswa ADS ini. Ini sama sekali bukan bocoran tetapi saya yakin seorang kandidat ADS harus bisa menjawab pertayaan-pertanyaan berikut dengan baik  Semoga pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda tambah semangat dan rajin menyiapkan diri. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1832&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 469px"><img class="  " src="http://australiaawardsindo.or.id/images/stories/newmain_img.jpg" alt="" width="459" height="140" /><p class="wp-caption-text">taken from http://australiaawardsindo.or.id/</p></div>
<p style="text-align:justify;">Daftar pertanyaan yang saya buat ini adalah hasil ingatan masa lalu dan prediksi berdasarkan pemahaman saya secara umum terhadap maksud dan tujuan adanya beasiswa ADS ini. Ini sama sekali bukan bocoran tetapi saya yakin seorang kandidat ADS harus bisa menjawab pertayaan-pertanyaan berikut dengan baik <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Semoga pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda tambah semangat dan rajin menyiapkan diri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1832"></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>What motivate you to study in Australia? (motivasinya apa?)</li>
<li>Why do you choose Australia as apposed to other countries? (kok milih Australia, bukan negara lain?)</li>
<li>What have you prepared to make sure you can finish your study in Australia? (sudah melakukan persiapan apa saja untuk bisa lulus kuliah?)</li>
<li>Australia&#8217;s education system is different from Indonesia&#8217;s. How well do you know this and how have you prepared yourself? (apa yang sudah disiapkan untuk menghadapi sistem pendidikan Australia yang berbeda dengan Indonesia?)</li>
<li>What are you going to study in Australia? (mau kuliah di mana di Australia?)</li>
<li>How well do you understand your proposed of study and how have you gathered information about it? (seberapa mengerti Anda tentang jurusan yang akan Anda ambil dan bagaiaman Anda memperoleh informasinya?)</li>
<li>If you are to study master degree, why do you choose master by coursework or by research? (jika Anda belajar S2, apa alasan Anda memilih master by coursework atau by research?)</li>
<li>How do you think the field of study benefit Indonesia? (apa manfaatnya bidang studi yang anda pilih bagi Indonesia?)</li>
<li>How important is the study for Australia? (seberapa penting bidang studi itu bagi Australia?)</li>
<li>How are you going to implement what you study in Australia when you return to Indonesia? (bagaimana menerapkan hasil studi Anda nanti ketika sudah pulang ke Indonesia?)</li>
<li>How confident are you about your chance to finish the study on time? (yakin bisa menyelesaikan studi tepat waktu?)</li>
<li>Are you going to do a research? How are you going to do it? (apakah akan melakukan penelitian? bagaimana cara/prosesnya?)</li>
<li>Is there any fieldwork involved in your study/research? If so, how are you going to do it? (adakah kerja lapangan terkait studi/penelitian Anda nanti? Bagaimana pelaksanaanya?)</li>
<li>What new things your research will contribute to the development of your area of study? (hal baru apa yang akan Anda kontribusikan melalui riset ini kepada perkembangan bidang ilmu ini?)</li>
<li>What motivate you to conduct research in this area, how it relates to Indonesia&#8217;s current problems and Australia&#8217;s priority development area? (apa motivasi Anda memilih bidang penelitian ini dan bagaimana kaitannya dengan permasalahan Indonesia serta prioritas pembangunan Australia/AusAID?)</li>
<li>Are you aware of potential culture shock that you might experience? How have you prepared yourself? (bagaimana menghadapi kemungkinan gegar budaya?)</li>
<li>Apart from academic matters, how do you think studying in Australia benefit you? (selain dalam hal akademik, apa keuntungan belajar di Australia?)</li>
<li>How are you going to interact with Australian people, considering that you have different cultural background? (bagaimana caranya berinteraksi dengan orang Australia mengingat kebudayaan yang berbeda?)</li>
<li>Do you think Indonesia is ready to support you developing your expertise upon completion of your study? (apakah Indonesia siap mendukung Anda mengembangkan keahlian Anda setelah kembali ke Indonesia nanti?)</li>
<li>If Indonesia is not ready to support you when you return due to lack of facilities and funding for instances, what is your plan? (kalau ternyata Indonesia tidak siap mendukung Anda setelah pulang nanti karena masalah fasilitas dan dana, apa rencana Anda?)</li>
<li>How do you think you can make real impacts to Indonesian and your society when you return to Indonesia? (bagaimana Anda akan membawa dampak nyata/langsung pada masyarakat ketika sudah selesai sekolah nanti?)</li>
<li>Do you think your area of study can benefit people in Indonesia or it is exclusive to corporation or government institutions? If it is not directly for the people how are you going to make sure that they are also benefited at some stages? (apakah keahlian Anda nanti bermanfaat bagi orang kebanyakan atau bersifat eksklusif bagi institusi pemerintah atau korporasi? Jika tidak berdampak langsung bagi masyarakat, bagaimana Anda menjamin agar masyarakat juga mendapat manfaat?)</li>
<li>Many people think that good education is to prepare one to compete in international arena. With better education and skills they can work anywhere in the world and they do not have to return to their country after study. What do you think about that? (banyak orang meyakini bahwa pendidikan yang baik membuat mereka bisa bersaing di dunia internasional sehingga banyak yang tidak pulang ke negaranya setelah lulus. Bagaimana Anda melihat ini?)</li>
<li>In a globalised world like this, contribution can be made from anywhere and you do not have to be in Indonesia to contribute for Indonesia. How do you see this opinion? (dalam dunia yang semakin sempit seperti sekarang, kontribusi bisa diberikan dari mana saja dan Anda tidak harus berada di Indonesia untuk bisa berkontribusi bagi Indonesia. Bagaimana pendapat Anda?)</li>
<li>Are you aware that the world is rapidly changing? What aspects do you see change in relation to what you will study in Australia and how are you going to contribute? (apakah Anda melihat perubahan besar yang terjadi di dunia saat ini? Apa saja hal yang terkait dengan apa yang Anda pelajari saat ini dan bagaimana Anda bisa berkontribusi?)</li>
<li>Leadership is one of the  keys to good order in the society. What leadership role have you played in the past and how are you going to maintain/enhance it in the future upon completion of your study? (kepemimpinan adalah salah satu kunci tatanan masyarakat yang baik. Aspek kepemimpinan apa yang sudah Anda perankan di masa lalu dan bagaimana Anda mempertahankan atau meningkatkan itu setelah meyelesaikan studi di Australia?)</li>
<li>Do you think what you will learn in Australia can help you with your career? How? (apakah studi Anda di Australia akan bermanfaat untuk karir Anda? Bagaimana dan dalam hal apa?)</li>
<li>One of the most important things to enhance in Indonesia and also the world is entrepreneurship. How can you do this in your are of study and how your study in Australia will help you with this? (salah satu yang perlu digalakkan di Indonesia dan dunia adalah kemampuan wirausaha. Bagaimana Anda bisa melakukan ini di bidang ilmu Anda dan bagaimana pendidikan di Australia akan membantu Anda mewujudkan itu?)</li>
<li>One of the benefits of studying overseas is good international network. How are you going to establish it and how to utilise it for your career and for Indonesia? (salah satu keuntungan belajar di LN adalah terbentuknya jejaring internasional. Bagaimana Anda membentuk dan memanfaatkan jejaring itu?)</li>
<li>Indonesia has had a lot of experts in your area, right? How do you see you will be able to make a difference? (ada banyak ahli di bidang Anda di Indonesia. Bagaimana Anda akan membuat suatu perubahan atau perbedaan ke arah kemajuan?)</li>
<li>What is your plan regarding information dissemination (knowledge sharing) upon completion of your study? (apa rencana Anda dalam membagikan informasi/pengetahuan Anda setelah lulus nanti?)</li>
<li>What have you done so far to demonstrate your care to your field of study? (apa yang telah Anda lakukan selama ini sebagai pertanda Anda memiliki kepedulian terhadap bidang studi Anda?)</li>
<li>Australia has different seasons. How are you going to cope with cold winter, for example? (Australia punya musim yang berbeda dengan Indonesia. Sudah siap dengan musim dingin yang menggigil, misalnya?)</li>
<li>What have you done to gather information that will support your study in Australia? (apa yang telah Anda lakukan untuk mendukung studi Anda di Australia?)</li>
<li>How do you think Indonesia-Australia relationship at the moment? (menurut Anda, bagaimana hubungan antara Indonesia dan Australia saat ini?)</li>
<li>Is there anything in Indonesia or Australia that become your concern in relation to your proposed study? (adakah hal khusus terkait Indonesia atau Australia yang menjadi perhatian Anda terkait studi yang Anda usulkan?)</li>
<li>How do you think Indonesia and Indonesia can maintain or enhance their bilateral collaboration? (bagaimana Indonesia-Australia dapat memelihara atau meningkatkan kerjasamanya?)</li>
<li>Are you going to bring your family to Australia? if so/not, what motivate you? (apakah Anda akan membawa keluarga ke Australia? apa motivasinya?)</li>
<li>Family can either support of disturb your study. How do you see this? (kehadiran keluarga bisa mendukung atau mengganggu studi Anda. Menurut Anda bagaimana?)</li>
<li>What is the benefit of bringing family to Australia and how are you going to achieve that? (apa keuntungan membawa keluarga saat studi di Australia dan bagaimana anda meraih keuntungan itu?)</li>
<li>Bringing family to Australia is not easy. How ready are you with all the preparation? (membawa keluarga ke Australia bukan perkara mudah. Bagaimana Anda menyiapkan segala sesuatunya?)</li>
<li>Do you think you can contribute to Australia also in relation to your study? (selain mendapat manfaat, apakah Anda bisa berkontribusi juga bagi Australia sehubungan dengan studi Anda?)</li>
<li>Are you aware that there are misunderstandings between Indonesia and Australia sometimes? How do you think you can play a role in eradicating the misunderstandings? (apakah anda paham, kadang terjadi salah paham antara Indonesia dan Australia? Bagaimana Anda bisa berperan dalam mengurangi kesalahpahamann itu?</li>
<li>What do you think is the main problems Indonesia is facing currently and how will your study help Indonesia address the problems? (apakah masalah utama Indonesia saat ini dan bagaimana studi Anda akan membantu menyelesaikannya?)</li>
<li>Please describe your potential role in your society and your workplace upon returning to Indonesia and how your study will help you? (apa peran/potensi peran Anda di masyarakat dan tempat kerja dan bagaimana studi ini akan membantu Anda mencapai/menjalankan peran itu?)</li>
<li>If you are selected, you will be in a group of very special Indonesians. How are you going to use your privilege for the good of other not-very-lucky Indonesians?</li>
<li>When you are in Australia, how are you going to balance academic life and other activities? (saat berada di Australia, bagaimana Anda menyeimbangkan kehidupan akademik dan aktivitas lainnya?)</li>
<li>While in Australia, how important do you think for you to be involved in activities other than study? (selama berada di Australia, seberapa penting bagi Anda untuk mengikuti kegiatan di luar akademik?)</li>
<li>What problems do you think you will face in Australia and how are you preparing yourself for that? (kendala apa yang kira-kira akan Anda hadapi dan bagaimana Anda menyiapkan semua itu?)</li>
<li>Is there anything that you want to ask, add or comment? (apakah ada yang ingin Anda tanyakan, tambahkan atau komentari?)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Selamat bersiap-siap dan semoga berhasil. Jangan lupa mintakan doa kepada orang-orang yang Anda sayangi karena doa mereka yang akan menyempurnakan perjuangan yang tidak mudah ini. Seperti saya, mudah-mudahan Anda juga setuju bahwa doa ibu (di manapun beliau berada) sangatlah digdaya. Selamat berjuang kawan!</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1832/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1832&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2012/01/01/prediksi-pertanyaan-wawancara-ads-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://australiaawardsindo.or.id/images/stories/newmain_img.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/30/putri-malu-elin-dan-ikan-kecil-di-pancuran/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/30/putri-malu-elin-dan-ikan-kecil-di-pancuran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 15:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Publications]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1828</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu saya mengajak Lita, anak saya, pergi ke pancuran di dekat rumah di Tabanan Bali. Beji, orang Bali menyebutnya, sebagai tempat untuk mengambil air suci saat upacara di Pura yang ada di desa. Pancuran ini tidak pernah kering, selalu berlimpah air bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun. Konon ini sudah terjadi sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1828&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://madeandi.wordpress.com/2011/12/30/putri-malu-elin-dan-ikan-kecil-di-pancuran/"><img src="http://img.youtube.com/vi/Xt1tPB4MPfk/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p style="text-align:justify;">Sore itu saya mengajak Lita, anak saya, pergi ke pancuran di dekat rumah di Tabanan Bali. <em>Beji</em>, orang Bali menyebutnya, sebagai tempat untuk mengambil air suci saat upacara di Pura yang ada di desa. Pancuran ini tidak pernah kering, selalu berlimpah air bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun. Konon ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, seperti diceritakan oleh orang tertua di kampung kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya menelusuri jalan setapak yang kini berbeton kuat. Ingatan saya melayang ke suatu masa 20 tahun silam saat menyusuri jalan yang sama dengan sepeda gayung. Saat itu saya masih kelas 1 SMP, berusia sekitar 13 tahun. Jalanan waktu itu berlumpur dan ditumbuhi rumput yang liar. Lumpur dan rumpur di musim hujan adalah paduan sempurna yang tidak pernah membiarkan sepatu saya bersih sampai di sekolah. Sore itu saya termenung sendiri sambil menceritakan hal itu pada Lita. Dia mungkin mengerti ceritanya tetapi sepertinya tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan dulu. Di jalanan yang terjal dan licin seperti itu, sepeda lebih sering dituntun daripada dinaiki, itu pasti. Ingatan saya juga melayang ke SMP 2 Marga dan terutama guru-gurunya yang meletakkan landasan yang kuat bagi pengetahuan saya saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1828"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kami tiba di pancuran. Ada tiga bilik untuk tujuan berbeda. Bilik di sebelah timur, yang paling dekat jalan setapak adalah untuk laki-laki, bilik tengah yang paling kecil adalah untuk mengambil air suci, dan bilik paling barat, paling jauh dari jalan setapak, adalah tempat mandi perempuan. Meskipun berbeda bilik, tidak perlu mengintip untuk bisa melihat orang mandi karena temboknya tidak tinggi. Entah mengapa, belum pernah ada cerita menghebohkan bahwa ada orang yang berusaha mengambil ‘keuntungan’ dari situasi ini. Atau mungkin melihat orang mandi bukan sesuatu yang layak jari berita di kapung saya, entahlah. Tapi kisah ini bukan tentang mandi, apalagi mengintip orang mandi, sama sekali bukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di pancuran saya melihat tujuh anak perempuan kecil. Yang tertua kelas enam SD, bernama Elin. Enam dari tujuh orang itu bersaudara dan yang terkecil berumur kira-kira satu tahun lebih sedikit. Satu dari mereka adalah sepupu Elin. Bertujuh mereka mandi di pancuran. Tidak hanya itu, satu dari mereka sedang memandikan adik terkecil mereka yang masih bayi itu. Dua lainnya sedang sibuk menyikat pakaian, mereka sedang mencuci baju dan celana. Keduanya berumur tidak lebih dari tujuh tahun. Di tahun 70an, pemandangan ini barangkali biasa namun di tahun 2011, dia jadi layak dituliskan di sebuah blog. Lita termasuk anak yang cukup mandiri tetapi untuk mencuci pakaiannya sendiri di pancuran apalagi sambil memandikan adik yang masih bayi sepertinya mustahil terjadi. Saya melamun menyaksikan itu. Peradaban memang berupa-rupa dan kadang jauh sekali jurang perbedaannya. Ketika di sebuah lingkungan, kemandirian ditandai dengan bangun sendiri di pagi hari tanpa dipaksa atau mengambil sendiri susu di kulkas, Elin dan adik-adiknya menganggap mencuci pakaian sendiri di pancuran sambil memandikan adik bayi mereka sebagai keniscayaan yang tidak istimewa. Mereka bahkan mungkin tidak mengenal kata ‘mandiri’.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersama Lita, ada juga Dinda, anak dari sepupu saya yang seumuran denganya. Sore itu ada Sembilan anak perempuan kecil di pancuran dan saya mengamati dengan seksama. Saya membiarkan mereka berdua menangkap ikan dan kepiting di bilik pancuran itu. Air pancuran yang menggenang di tiap bilik mandi membentuk kolam, tempat hidup berbagai ikan, udang dan kepiting kecil. Di sela kesibukan mereka mencuci dan atau memandikan adiknya, Elin dan adik-adiknya sibuk menyemangati Lita saat menangkap ikan dan kepiting kecil. Sebagian besar akhirnya bergabung bersama Lita dan terlihatlah gadis-gadis kecil yang berlomba menangkap ikan dan kepiting kecil. Lita dan Dinda hanya mengenakan celana dalam, mereka terlihat sangat menikmati. Entah ke mana larinya disiplin Kumon atau ketangkasan Lita berhitung matematika dalam Bahasa Inggris. Sore itu hanya ada satu yang paling penting di dunia: ikan dan kepiting kecil. Satu per satu makhluk kecil itu mengisi gelas bekas air mineral yang sudah disiapkan Lita dan Dinda.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, saya menjauh, memperhatikan dari pinggir danau besar tidak jauh dari mereka. Cekikikan mereka terdengar jelas dan yang ada hanyalah kebahagianan dan keceriaan. Tawa itu tanpa beban dan kemerdekaan mereka untuk menyentuh alam benar-benar terasa. Dua puluh lima tahun yang lalu saya melakukan hal yang sama. Kenangan itu hadir kembali. Saya tidak bisa mengerti jika ada orang tua yang melarang anak-anak mereka menikmati segarnya air pancuran hanya gara-gara baju mahal mereka kotor dan tidak bisa dibersihkan. Alangkah banyak hal yang terlewat jika anak-anak ini tidak sempat merasakan licinnya batu berlumut di pancuran sambil berlarian mengejar ikan-ikan kecil itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berjongkok mengamati dari kejauhan. Di depan saya terhampar tanaman yang tidak asing. Kami menyebutnya don mailing-maling (daun pencuri) atau Puteri Malu dalam Bahasa Indonesia. Perlahan saya menyentuh sehelai daun kecil itu dan diapun mendadak jadi kuncup. Jika saya sentuh batangnya, seketika batang itu merunduk melemah dan terjuntai. Kami menyebutnya maling karena perilakunya seperti maling yang kepergok ketika disentuh: surut, malu dan merunduk.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya layangkan pandangan, alam masih seperti dulu. Jalan setapak itu sama seperti dua puluh tahun lalu, hanya sekarang lebih rimbun oleh rumput karena jarang dilalui roda sepeda atau motor. Sudah tidak ada lagi orang yang melalui jalan setapak di pinggir danau ini dengan sepeda karena mereka bepergian lewat jalan besar yang sudah diaspal. Dua puluh tahun lalu, jalanan besar itu masih barbatu pecahan yang kasar dan tidak nyaman untuk sepeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya duduk di bawah keluarga pohon pisang yang pangkalnya diselimuti jerami yang mulai basah dan membusuk. Terlihat dua ekor kadal berlarian berkejaran menimbulkan suara berisik kecil. Mereka seperti tidak takut dengan kehadiran saya. Mereka berlari menerobos gerombolan Puteri Malu yang seketika lunglai oleh sentuan tubuh mereka. Di kejauhan, riuh tawa riang dari Lita dan teman-temannya masih terdengar. Mereka merasakan kenikmatan yang sama dengan yang saya rasakan dua puluh tahun lalu. Sangat menyenangkan melihat Lita tumbuh bersahabat dengan iPad sekaligus sigap menggengam ikan atau kepiting kecil di telapak tangannya. Seperti kata para pintar, negeri ini membutuhkan orang yang memiliki daya saing di tingkat dunia namun memiliki pemahaman yang cukup akan negerinya yang beragam. Akankah Lita dan teman-temanya menjadi bagian dari generasi harapan itu?</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/publications/'>Publications</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/religion/'>Religion</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1828/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1828/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1828&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/30/putri-malu-elin-dan-ikan-kecil-di-pancuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Wawancara Beasiswa ADS 2012</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/29/tips-wawancara-beasiswa-ads-2012/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/29/tips-wawancara-beasiswa-ads-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 10:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Scholarship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1822</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin mengawali tulisan ini dengan doa yang tulus agar Anda, para pembaca sekalian, mendapat manfaat dari tulisan ini. Bagi sahabat yang akan mengikuti wawancara beasiswa ADS pada bulan Januari 2012, dengan segala ketulusan hati saya mendoakan yang terbaik. Kita semua percaya bahwa memperoleh beasiswa adalah misteri illahi tetapi kita juga yakin bahwa tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1822&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 360px"><img class=" " src="http://madeandi.files.wordpress.com/2009/06/snow.jpg?w=350&#038;h=335" alt="" width="350" height="335" /><p class="wp-caption-text">Winter tahun 2010</p></div>
<p style="text-align:justify;">Saya ingin mengawali tulisan ini dengan doa yang tulus agar Anda, para pembaca sekalian, mendapat manfaat dari tulisan ini. Bagi sahabat yang akan mengikuti wawancara beasiswa ADS pada bulan Januari 2012, dengan segala ketulusan hati saya mendoakan yang terbaik. Kita semua percaya bahwa memperoleh beasiswa adalah misteri illahi tetapi kita juga yakin bahwa tidak ada hasil yang baik tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Seperti yang dipercaya Alif dalam Negeri Lima Menara, Manjadda wajadda. Barang siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai hasil yang baik. Thomas Jefferson bernah berujar, “semakin keras saya bekerja, semakin beruntung saya merasa”. Usaha Anda membaca tulisan ini adalah manifestasi dari kesungguhan. Doa dan ikhtiar itu semoga menjadi semakin sempurna karena saya menuliskan tips kecil ini juga dengan kesungguhan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1822"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak yang <a href="http://madeandi.wordpress.com/scholarships" target="_blank">sudah saya tulis di blog ini</a> terkait wawancara tetapi semua itu tidak akan pernah cukup. Segala tips itu memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjamin pembaca berhasil dalam seleksi beasiswa. Tips ini hanya mengingatkan saja dan merupakan sebuah catatan dari ingatan yang terserak. Selebihnya, adalah Anda dan usaha Anda yang menentukan segalanya. Tulisan sederhana ini saya persembahkan sebagai doa tulus untuk Asti, istri saya, yang juga akan berjuang menuntaskan seleksi ADS di awal 2012 nanti. Jika Anda pernah membaca <a href="http://madeandi.wordpress.com/2009/02/14/keputusan-penting/" target="_blank">kisahnya</a>, mungkin tidak berlebihan jika kini saya mohonkan doa dengan tulus untuk keberhasilannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah ungkapan China mengatakan, “untuk bisa betah di rumah, tipsnya hanya satu. Cobalah tinggal lebih lama di dalamnya.” Ini senada dengan petuah sakti Tuk Bayan Tula di Laskar Pelangi “Kalau nak pintar, belajar.” Memang kenyataannya tidak ada jalan pintas untuk mencapai keberhasilan yang sejati. Tidak ada sim salabim dalam wawancara beasiswa, intinya adalah PERSIAPAN yang matang. Meski demikian, saya setuju dengan Gede Prama bahwa “ada jalan tol menuju keberhasilan”. Bahwa seorang pejuang bisa memilih jalan yang terbaik untuk berhasil dengan cara mengikuti petunjuk serta mempelajari pola dan strategi mereka yang telah berhasil terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal pertama yang saya anjurkan adalah membaca kembali dengan seksama berkas aplikasi Beasiswa ADS yang dulu dikirimkan kepada panitia seleksi. Segala jawaban di lembar aplikasi itu perlu dipahami dengan sangat baik untuk persiapan wawancara. Target Anda adalah memahami dan bila perlu menghafalkan 100% jawaban yang pernah ditulis di formulir beasiswa ADS. Akan aneh jika saat wawancara Anda menjawab pertanyaan tertentu yang bertentangan dengan yang pernah Anda tulis saat mengisi formulir Beasiswa ADS saat mendaftar dulu. Harus diakui, tidak sedikit pelamar yang menyelesaikan pengisian formulir beasiswa dengan bantuan orang lain. Semakin banyak bantuan yang diperoleh ketika mengisi formulir itu, semakin besar usaha yang diperlukan untuk memahami kembali isi formulir itu untuk kepentingan wawancara.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang peserta wawancara ADS wajib mencari informasi lebih rinci tentang Beasiswa ADS lewat website (<a class="smarterwiki-linkify" href="http://www.australiaawardsindo.or.id">www.australiaawardsindo.or.id</a>), alumni, Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (<a class="smarterwiki-linkify" href="http://www.PPI-Australia.org">www.PPI-Australia.org</a>), teman/kenalan yang sedang kuliah di Australia baik yang dikenal secara fisik maupun hanya bertemu di dunia maya. Informasi dasar yang perlu dikuasai sebelum mulai wawancara adalah sejarah beasiswa secara umum, tujuannya, skema beasiswa termasuk durasi dan jenis gelar, besarnya gaji/allowance beasiswa, fasilitas yang bisa dinikmati penerima beasiswa, dan informasi dasar lainnya yang secara lengkap disampaikan dalam website ADS.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu sumber informasi utama selain website ADS dan website universitas di Australia adalah Perhimpunann Pelajar Indonesia Australia (PPIA). Selain websitenya, Anda bisa mengikuti akun twitter mereka (@PPIAustralia) dan laman FBnya. Silakan lakukan pencarian di FB untuk mendapatkan informasinya. Anda juga bisa menghubungi PPIA cabang dan ranting di seluruh Australia sesuai dengan kota/state/universitas yang ingin Anda tuju kelak jika berhasil mendapatkan beasiswa. Informasi kontak cabang dan ranting ini ada di website PPIA Pusat. Salah satu informasi bagus tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di Australia <a href="http://wollongong.ppi-australia.org/buku/Wollongong_Menyapa_Final.pdf" target="_blank">disiapkan oleh PPIA University of Wollongong</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah mendapatkan informasi kontak, coba kirimkan pesan melalui email, wall FB, atau mention di twitter. Tentu saja saya tidak perlu menjelaskan bagaimana cara menyampaikan pesan yang baik agar si penerima pesan tergugah untuk membalas. Yang jelas, pesan singkat satu baris yang tanpa basa-basi seperti “ksh tau biaya hidup di Aussie dong!” sebaiknya dihindari. Perlu menyampaikan latar belakang secukupnya dan tetap memperhatikan sopan-santun Indonesia. Segaul-gaulnya orang, tetap akan lebih aman jika kontak pertama dilakukan dengan mengikuti kaidah sopan-santun konvensional. Sejujurnya ada perasaan aneh tiap kali saya mendapat email hanya dengan satu baris pesan berbunyi “di Aussie bisa cari kerja ga sich?” tanpa salam sapa, tanpa penutup dan terutama tanpa perkenalan. Menariknya, belakangan ini makin banyak anak muda yang melakukan ini. Apakah saya yang kurang gaul ya? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang pernah saya tulis di blog ini, wawancara beasiswa bukanlah proses pengadilan, wawancara adalah proses penegasan. Pewawancara pada dasarnya sudah mengetahui Anda punya potensi besar, makanya Anda dipanggil wawancara. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk grogi berlebihan. Meski demikian bersyukurlah jika Anda merasa grogi karena itu pertanda Anda serius. Yang pasti, perasaan grogi itu harus dikelola dengan bijaksana dengan cara melakukan persiapan sebaik-baiknya. Jangan lewatkan informasi yang dirasa perlu diketahui.</p>
<p style="text-align:justify;">Informasi umum yang sepintas tidak ada hubungannya dengan beasiswa juga perlu diketahui. Missal, akan sangat aneh jika Anda tidak tahu bahwa kini Australia memiliki Perdana Menteri perempuan pertama sepanjang sejarah yaitu Julia Gilard. Jika Anda menekuni Isipol, Anda tentu perlu tahu bagaimana Kevin Rudd ‘dijatuhkan’ oleh partainya, diganti Julia Gilard dan akhirnya terjadi pemilu yang sempat diwarnai insiden ‘pemerintahan tergantung’ akibat suara seimbang. Yang lebih penting, bagaimana kira-kira dampak insiden politik itu bagi hubungan Indonesia dan Australia.</p>
<p style="text-align:justify;">Anda juga wajib mengetahui interaksi pemerintah Indonesia dan Australia terkait bidang yang Anda tekuni, misalnya perihal kesehatan. Akan sangat bagus jika Anda bisa bercerita, walaupun sedikit, betapa besar perhatian pemerintah Australia di sektor kesehatan terhadap Indonesia, terutama setelah adanya bom Bali. Program ADS dengan targeted recipients di sektor kesehatan dari Bali juga perlu Anda ketahui, meskipun sedikit. Kata kunci yang memberikan kesan bahwa Anda mengetahui sesuatu dengan baik adalah dengan menyebut angka atau nama. Misalnya, Anda sampaikan bahwa Anda tahu tahun 2005/6 ada ada 6 orang penerima beasiswa ADS dari sektor targeted di Bali. Sealin itu, bisa juga menyebutkan ada seorang kawan baik Anda yang pernah mendapatkan beasiswa dengan skema ‘targeted’ ini, jika memang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda akan mengambil program Master by Research atau PhD (yang umumnya by research) maka Anda harus menguasai rencana penelitian dengan sangat baik. Yang sangat penting adalah Anda perlu menyiapkan pemaparan dg bahasa yang mudah dimengerti karena pewawancara belum tentu ahli di bidang yang sama dengan Anda. Meski informasi spesifik/teknis itu penting, Anda sebaiknya tidak terpaku pada informasi spesifik/teknis teknis tersebut dan berusaha menjelaskan sesuatu menggunakan bahasa umum yang mudah dimengerti oleh orang yang tidak menekuni bidang serupa. Dalam hal ini Anda perlu tahu cara mengaitkan penelitian dengan isu umum seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, pemilu, kemiskinan, demokrasi, terorisme, kesehatan, Millenium Development Goal, Human Development Index, dll. Jika Anda belajar di sektor umum seperti kesehatan, pertanian, lingkungan dan sejenisnya, tentu tidak sulit mengaitkan dengan isu-isu umum yang berkembang di masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal umum yang wajib Anda sampaikan dengan lugas adalah: masalah yang terjadi di Indonesia sehingga perlu adanya pihak yang mengkaji dalam bentuk penelitian. Kedua, pastikan Anda telah memperlajari penelitian-penelitian sebelumnya sehingga dengan yakin bisa mengatakan bahwa penelitian Anda ini bersifat unik dan akan memberikan kontribusi baru. Dalam hal ini tujuan penelitian sudah harus jelas. Ketiga, sampaikan metode yang akan dipakai untuk mencapai tujuan penelitian itu, misalnya melalui kajian pustaka, wawancara, penelitian laboratorium, observasi/penelitian lapangan, penggunaan statistik, simulasi dll. Keempat, hasil yang diharapkan dari penelitian itu. Misalnya model atau berbagai opsi penyelesaian kasus. Kelima seberapa siap Anda dalam melakukan penelitian itu. Misalnya pengalaman meneliti, publikasi yang sudah pernah dilakukan dan sebagainya. Keenam adalah kemungkinan berhasil dan daya dukung yang ada: dana, komitmen dari partner (misalnya Anda sudah kontak institusi pemerintah dan mendapat dukungan), data/informasi yang telah dimiliki, sumber lain yang bisa menjadi pendukung penelitian. Terakhir perlu dirangkum dan ditegaskan betapa pentingnya penelitian ini bagi Indonesia dan sejalan dengan program Australia.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat bertemu dengan pewawancara pertama kali (biasanya setelah memasuki ruangan), sampaikan salam hangat dengan menatap mata pewawancara ketika menyapa misal &#8220;good morning, how are you?&#8221;. Sebaiknya ikuti sapaan ini dengan senyum wajar yang singkat saja. Jika pewawancara mengatakan ‘welcome’ atau &#8216;thank you for coming&#8217;, jawab dengan elegan sambil senyum &#8220;happy to be here&#8221; atau &#8220;my pleasure&#8221; atau bisa juga ditambahi dengan apresiasi seperti ‘I should thank you for the opportunity” sambil senyum singkat tentu saja. Gerakan kepala, jabatan tangan, pandangan mata akan menambah kesan sopan dan professional.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat menunggu pertanyaan selesai diugapkan, Anda bisa memainkan mimik wajar dengan mengubah-ubah air muka. Akan sangat tidak enak bagi seorang penanya jika yang ditanya tidak menunjukkan anutusiasme dan memasang tampang dingin dengan muka tak berubah sepanjang waktu. Perlu megombinasikan anggukan, gerakan alis, posisi tubuh dan senyum untuk menunjukkan ketertarikan saat wawancara beasiswa. Bagaimana secara teknis itu dilakukan, Anda perlu menonton acara Oprah Winfrey dan belajar dari para tamunya saat diwawancarai. Bisa juga lihat dari The Apprentice. Meski demikian, Anda perlu hati-hati, tidak semua tamu di acara itu memiliki sikap tubuh yang layak ditiru saat wawancara ADS <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Anda tidak perlu berbicara capat hanya untuk menunjukkan Anda pintar berbahasa Inggris. Yang penting adalah bahasa yang tertata dengan baik, meskipun pelan. Memang tidak mudah melakukan ini dan Anda perlu berencana. Maka dari itu silakan diam sejenak sebelum menjawab dan sampaikan dengan sopan kepada penanya bahwa Anda perlu berpikir sejenak. Anda bisa berkata misalnya “please allow me to think for a minute” atau “let me think for a while”. Tentu saja Anda sebaiknya tidak berpikir terlalu lama. Diam lebih dari 15 detik tentu kurang bagus dalam proses wawancara. Saya sarankan lebih baik Anda menjawab pertanyaan dengan struktur satu, dua, tiga dan seterusnya. Ini untuk menghindarkan Anda dari kemungkinan menjawab terlalu panjang tidak terarah, apalagi jika Anda tidak sangat fasih dalam berbahasa Inggris.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat menjawab terkait penelitian, lebih bagus jika Anda bisa mengutip informasi spesifik seperti angka, tahun, nama orang dan nama tempat. Misalnya, untuk menegaskan bahwa penelitian Anda di bidang kesehatan sangat penting, maka Anda bisa mengutip angka kematian terkait penyakit tertentu. Bisa juga menyebut nama orang terkenal yang menjadi korban, peneliti yang telah mendedikasikan hidupnya di bidang tersebut, atau nama daerah di Indonesia/dunia yang terkait dengan isu penyakit tertentu. Jika Anda bisa mengutip angka yang menunjukkan trend penyakit tertentu, akan sangat bagus, misalnya angka kejadian/kematian dari tahun ke tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Anda juga bisa mengaitkan jawaban Anda atas pertanyaan pewawancara dengan apa yang sudah/akan Anda lakukan. Misalnya &#8220;based on my recent research..&#8221; atau &#8220;Having observed the latest development of..&#8221; Ini untuk menunjukkan Anda telah dan akan berbuat sesuatu untuk bidang yang Anda tekuni. Dalam hal ini sampaikan aktivitas terkait yang sudah dilakukan, sedang dilakukan dan yang recananya akan dilakukan di masa depan. Dalam hal ini penting untuk membawa serta contoh publikasi yang pernah ditulis jika ada (jurnal, makalah konferensi, laporan penelitian internal, dll) untuk menunjukkan peran yang sudah diambil. Meski demikian, jangan khawatir jika belum ada publikasi sama sekali. Intinya, pewawancara sudah tahu hal ini karena dalam formulir juga sudah Anda jelaskan. Jika Anda tetap dipanggil, artinya ada keistimewaan lain. Cobalah cari dan fokus pada keistimewaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang terpenting dari skema beasiswa ADS adalah bahwa apa yang Anda pelajari harus berguna bagi Indonesia dan Australia. Misalnya Anda harus dengan gamblang bisa menjelaskan bahwa penelitian atau bidang studi Anda penting untuk mengatasi masalah tertentu di Indonesia dan sejalan dengan Priority Development Area tertentu yang dicanangkan oleh pemerintah Australia melalui program ADS. Jika Anda akan belajar perihal kesehatan, Anda bisa mengatakan bahwa bidang studi Anda berguna untuk mengatasi persoalan terkait penyakit paling mematikan di Indonesia dan ini sesuai dengan Priority developmet Area “Investing in People” misalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Anda harus memiliki rencana yang cukup jelas tentang apa yang akan dilakukan di masa depan setelah sekolah. Sampaikan bahwa Anda akan kembali ke Indonesia, bekerja di sektor yang sama dan bila perlu di insititusi yang sama. Perlu menyampaikan bahwa di insitusi Anda telah ada semacam grand design atau program jangka panjang yang memerlukan keahlian Anda untuk mewujudkannya. Jika Anda peneliti, sampaikan rencana Anda untuk menekuni penelitian yang sama di masa depan dan terutama bagaimana strategi menyebarkan hasil penelitian tersebut. Jangan lupa untuk menyampaikan fenomena bahwa penelitian saat ini masih bersifat eksklusif bagi kalangan peneliti atau akademik. Terobosan yang perlu dilakukan peneliti adalah berbagi hasil penelitiannya kepada lebih banyak pihak dengan melakukan diseminasi lewat jalur popular. Selain menulis di jurnal dan konferensi/seminar, peneliti perlu menulis di blog, koran, twitter, FB. Pastikan Anda cukup aware dengan masalah ini dan akan mencoba melakukan sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Anda akan mengambil program Master by Research atau PhD, pastikan punya rencana penelitian yang jelas terkait waktu dan aktivitas. Kejelasan ini termasuk adanya fieldwork atau wawancara sehingga Anda perlu pulang ke Indonesia atau ke negara lain di luar Australia. Tentu saja Anda tidak perlu menyampaikan sangat rinci tetapi setidaknya Anda bisa mengatakan bahwa penelitian ini terkait erat dengan Indonesia sehingga perlu melakukan verifikasi atau pengumpulan data di Indonesia. Hal ini penting untuk menegaskan peran penelitian bagi Indonesia dan juga memberikan gambaran kepada AusAID bahwa penelitian ini memerlukan dana tambahan untuk fieldwork dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain perihal ilmu, belajar di negara maju adalah perihal membangun dan menguatkan jejaring. Tekankan bahwa Anda paham betul dengan aspek ini dan sampakkan rencana untuk membangun jejaring internasional dan bagaimana memanfaatkannya setelah lulus nanti. Jejaring bisa dibuat dengan teman sebangsa dari berbagai daerah di Indonesia, teman kuliah internasional dari berbagai negara lain, dosen/supervisor di universitas tempat belajar, para ahli terkait melalui forum ilmiah internasional, pihak industri, lembaga swadaya masyarakat, instansi tertentu di pemerintah Australia, dan sebagainya. Jejaring ini bisa dibangun dengan interaksi personal, kolaborasi penelitian, organisasi kemahasiswaan, kegiatan sukarela, pertemuan ilmiah (konferensi/seminar/workshop), dan komunitas maya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pastikan Anda tahu perbedaan cara belajar di Australia dan Indonesia dan sudah melakukan persiapan untuk itu. Belajar di Australia menuntut kemandirian yang sangat tinggi. Sistem belajar dipenuhi dengan penugasan mandiri berupa penulisan paper/presentasi/proyek dll. Tunjukkan bahwa Anda paham itu dan siap belajar dengan supervisi minimal. Untuk menunjukkan bahwa Anda pasti akan siap dengan itu, sampaikan bahwa Anda paham bahwa AusAID akan memberikan pelatihan kepada semua perserta selama jangka waktu tertentu di Indonesia sehingga harapannya semua orang akan siap dengan segala kemungkinan selama di Australia. Sampaikan bahwa Anda tahu akan ada kursus English for Academic Purposes (EAP) di Jakarta atau di Bali sebelum berangkat yang isinya tidak saja soal persiapan akademik tetapi juga ‘cross culture understanding’.<br />
Tunjukkan bahwa Anda tahu potensi kendala yang akan dihadapi selama di Australia yaitu soal bahasa, budaya, suasana akademik, iklim alam, dan persiapan mengatasinya. Untuk bahasa, perlu diketahui bahwa logat Inggris orang Australia sangat berbeda dengan logat Inggris Amerika yang umumnya lebih sering didengar oleh orang Indonesia. Untuk ini sampaikan bahwa EAP akan membantu Anda dan Anda telah melakuakan persiapan dengan menonton program televisi Australia. Yang terpenting, sampaikan bahwa Anda justru merasa antusias dengan logat Inggris yang berbeda karena itu artinya Anda akan belajar lebih banyak lagi. Selalu jadikan tantangan sebagai peluang. Selain itu, di Australia juga banyak akademisi (dosen) internasional sehingga tentu akan banyak dosen yang menggunakan Bahasa Inggris dengan logat beragam. Ini akan lebih memperkaya dan Anda tidak melihatnya sebagai kendala tetapi kesempatan/peluang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tunjukkan kesan bahwa Anda sudah berusaha maksimal dengan cara membaca buku, menonton berita dan perkembangan terkini, melihat website terkait, bertanya pada PPI Australia, menghubungi Universitas terkait di Australia, dll. Terkait pilihan universitas, pastikan Anda tahu posisi universitas yang akan Anda tuju di antara universitas lain di Australia dan mengapa memilih itu. Ada beberapa alasan misalnya terkait reputasi universitas, banyaknya publikasi di bidang terkait, jumlah para ahli yang dimiliki, penemuan terkini yang terkenal, rangkingnya di dunia/Australia, pengalaman Anda pernah berkolaborasi, perkenalan Anda dengan salah satu ahlinya, reputasi calon supervisor, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Anda sebaiknya menyiapkan pertanyaan jika diberi kesempatan oleh pewawancara. Sebaiknya Anda tidak fokus pada keuntungan atau manfaat yang akan diperoleh selama mendapatkan beasiswa tetapi pengembangan diri. Contoh pertanyaan yang baik adalah bagaimana peluang Anda bisa berinteraksi/berkolaborasi dengan mahasiswa lain penerima Beasiswa ADS dari negara lain. Perlu ditanyakan adakah forum yang akan mempertemukan Anda sehingga bisa saling belajar. Selain itu perlu juga disampaikan bahwa Anda ingin sekali menjalin persahabatan dan kerjasama dengan orang local dan Anda tahu itu tidak mudah dilakukan. Mintalah tips singkat bagaimana melakukan hal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun Anda tentu ingin tahu, sebaiknya tidak bertanya perihal jumlah allowance/gaji dari AusAID untuk penerima beasiswa, apakah bisa menabung dari gaji tersebut, apakah bisa bekerja paruh waktu, apakah boleh tetap tingga di Australia setelah lulus, dan sejenisnya. Jika ingin mengetahui hal ini, tanyakan kepada alumni atau mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Australia.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memantapkan persiapan, anda perlu menyiapkan bukti prestasi/penghargaan yang relevan dengan rencana bidang studi/penelitian. Siapkan piagam terkait saat menang lomba, bukti tulisan di jurnal, buku yang pernah Anda tulis, makalah konferensi atau seminar, artikel di koran, berita yang memuat Anda dan sebagainya. Bisa juga membawa Surat Keputusan atau sejenisnya yang membuktikan Anda pernah melakukan suatu peran yang terkait dengan bidang yang Anda tekuni nantinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika harus dipanjangkan, tulisan ini bisa tidak selesai. Meski demikian, saya juga yakin bahwa lebih banyak tips ini bersifat ‘common sense’ saja, pembaca sebenarnya sudah mengetahuinya. Yang diperlukan kadang-kadang hanyalah ‘konfirmasi’ yang menenangkan hati. Saya pastikan bahwa segala yang saya ketahui sudah saya sampaikan di blog ini, silakan Anda menelusuri dengan seksama. Meski demikian, saya yakin tetap akan nada orang yang memberi komentar tulsian ini seperti “adakah hal lain yang harus saya siapkan?” atau “adakah tips lain selain yang Anda tulis di blog” <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Silakan bertanya demikian tetapi mohon maaf jika saya tidak akan bisa memberikan yang lebih lengkap dari apa yang sudah ditulis di blog ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal terakhir yang saya ingatkan adalah menutup wawancara dengan ucapan terima kasih yang elegan dan sopan. Sampaikan kalimat singkat seperti “thank you very much, I really appreciate the opportunity” tetapi tidak usah ditambahi “mohon maaf atas segala kesalahan yang disengaja ataupun tidak”. Jika ingin, silakan tambahi kalimat singkat lainnya seperti “I really hope I can make it”.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tips ini tidak pernah dimaksudkan untuk menjamin Anda lolos seleksi ADS. Jika suatu ketika Anda lolos, itu pasti kerena perjuangan Anda sendiri. Meski demikian, kita tentu sadar bahwa tidak ada sesuatupun terjadi di luar kuasa Tuhan. Dalam Hindu kami menyebutnya ‘<em>isavasyam idam sarvam</em>&#8216;, bahwa Tuhan itu ada dan meliputi segalanya. Tidak ada satu hal dan kejadianpun di alam semesta ini yang luput atau terpisah dari Tuhan. Setelah berikhtiar dengan seksama, biarkan doa yang memeluk mimpi-mimpi kita hingga menjadi nyata. Selamat berjuang kawan, sampai bertemu di Negeri Kangguru!</p>
<p style="text-align:justify;">Baca juga: <a href="http://madeandi.wordpress.com/2012/01/01/prediksi-pertanyaan-wawancara-ads-2012/" target="_blank">Prediksi Pertanyaan Wawancara ADS 2012</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/scholarship/'>Scholarship</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1822/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1822&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/29/tips-wawancara-beasiswa-ads-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2009/06/snow.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sekali waktu, gertakan juga perlu</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/27/sekali-waktu-gertakan-juga-perlu/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/27/sekali-waktu-gertakan-juga-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 06:42:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Contemplations]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1819</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa ini terjadi tahun 2005, di sebuah tempat di Sydney, Australia. Hari itu saya menunggu bus untuk berangkat kerja di sebuah perusahaan pembuat kue (pastry). Jarak dari rumah ke halte bus cukup jauh sehingga saya berangkat pagi-pagi agar bisa tiba di halte sebelum bus tiba. Saya tahu, bus yang tepat untuk saya adalah nomor 357 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1819&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 237px"><img class=" " src="http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2011/10/gertak.jpg" alt="" width="227" height="168" /><p class="wp-caption-text">dipinjam dari http://www.sesawi.net/</p></div>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa ini terjadi tahun 2005, di sebuah tempat di Sydney, Australia. Hari itu saya menunggu bus untuk berangkat kerja di sebuah perusahaan pembuat kue (pastry). Jarak dari rumah ke halte bus cukup jauh sehingga saya berangkat pagi-pagi agar bisa tiba di halte sebelum bus tiba. Saya tahu, bus yang tepat untuk saya adalah nomor 357 pada jam 8.25 pagi karena saya harus mulai bekerja jam 9.00 pagi. Saat tiba di bus, saya melihat seorang kawan yang juga orang Indonesia sudah menunggu bus dengan santai. Rina, nama kawan itu. Saya sempat melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 8.15, berarti saya memiliki waktu sepuluh menit sebelum bus tiba. Lebih dari cukup, saya pikir. Sayapun menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Rina.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1819"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada waktu yang ditentukan oleh jadwal yang tertempel di halte bus, ternyata bus belum datang. Saya pastikan berkali-kali, bus memang seharusnya datang jam 8.25. Saya masih berharap bus akan terlambat meskipun bukan kejadian biasa. Jika saja bus terlambat sepuluh menit, saya masih bisa tiba di tempat kerja sebelum jam 9.00, saya pikir. Sekian lama menunggu, bus tidak kunjung tiba, kami mulai panik. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taxi.</p>
<p style="text-align:justify;">Malang tak tapat ditolak, ternyata ada proyek pengerjaan jalan sehingga lalu lintas sedikit terlambat. Singat cerita, kami tiba di tempat kerja jam 9 lebih. Artinya kami terlambat dan saya sudah siap dengan segala konsekuensinya. Apapun alasannya, seorang karyawan yang terlambat masuk kerja layak mendapat teguran bahkan boleh dimarahi oleh bos. Saya sudah menyiapkan diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Rina masuk duluan dan langsung mengenakan segala atribut layaknya pekerja perusahaan kue. Saya mengikutinya dan mulai mencuci tangan mengikuti prosedur standard yang sudah ditetapkan. Saya dengar dari tempat cuci tangan, Rina disambut dengan ucapan nada tinggi oleh bos kami, seorang perempuan keturunan Inggris. “<em>You are late, Rina. Where is Andi?</em>” dari jauh saya berteiak “<em>Yes, Felicity!</em>” sambil tetap membersihkan tangan. Saya siap dengan segala konsekuensinya. Dimarahi bos kalau terlambat adalah sebuah kewajaran. Saya masih mendengar tumpahan kata-kata berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>You guys don’t listen to me! I told you many many times that you have to take a bus number 400 so you can arrive here on time. Busses number 357 do not pass here, I told you. Why don’t you believe me?</em>” Felicity, bos perempuan itu, masih mencerca dengan berbagai kalimat bernada tinggi. Rupanya dia tidak tahu bahwa sudah berbulan-bulan sebelumnya kami memang menggunakan bus nomor 357 dan tidak ada masalah. Usulannya agar kami menggunakan bus 400 juga sudah berlangsung lama dan sebenarnya sudah pernah diingatkan beberapa orang bahwa usulan itu kurang tepat karena bus 400 berhenti di halte bus yang jauh dengan tempat kerja. Rupanya dia tidak tahu menahu tentang bus 357 dan bersikukuh dengan usulannya untuk menggunakan bus nomor 400.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun sebagian besar orang di tempat kerja tahu bahwa apa yang dikatakan si bos perempuan itu salah, tidak satupun berani membantah. Bos ini memang terkenal galak kalau berbicara, tidak mentoleransi kesalahan dan sangat dispilin. Tentunya dua sifat terakhir ini sangat penting dan cocok sebagai seorang atasan. Meski begitu dia memiliki gaya komunikasi yang ‘mengancam’ sehingga orang-orang menjadi tidak nyaman. Pernah suatu ketika saya diminta untuk membersihkan gudang dengan membuat segala sesuatu yang tidak dipakai lagi. Tidak jarang saya harus membuat barang-barang yang memang terlihat seperti baru. Saat menemukan lembaran kardus yang belum dirakit saya ragu-ragu apakah harus membuangnya atau tidak. Ketika saya tanya baik-baik di berkata “<em>does it look like rubbish to you?</em>” sambil menatap dengan sorot mata mengancam. Saat itu saya masih baru dan memilih untuk diam meskipun ada perasaan tidak enak. Cerita itu sudah berlalu beberapa bulan, saat insiden terlambat masuk kerja itu terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Next time you better believe me and take a bus number 400. You cannot rely on a bus that does not pass here.</em>” Felicity tetap bersikeras dengan keyakinannya. Di situlah saya tidak bisa menahan lagi. Jika harus dimarahi karena terlambat, saya terima tetapi kalau dimaki-maki karena dianggap tidak becus membaca jadwal transportasi, ini saya tidak terima. Yang terpenting, Felicity jelas-jelas salah mengenai jadwal bus dan itu artinya dia marah-marah tanpa dasar yang kuat. Dimarahi karena terlambat datang ke tempat kerja bukanlah perkara besar tetapi diremehkan karena dianggap tidak tahu hal-hal kecil seperti jadwal bus tentu tidaklah menyenangkan. Apalagi jika anggapan itu salah.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya melawan keraguan dan bergegas mendekati perempuan yg sudah cukup berumur itu. Untuk ukuran bule, dia tidak tinggi sehingga wajah saya bisa beradu dengan wajahnya dekat sekali. Saya merasakan kemarahan yang luar biasa dan lupa segala-galanya.<br />
“<em>Felicity, you don’t know anything about busses</em>” kata saya tegas, pelan dan dengan volume agak tinggi. Tentu saja Felicity terkejut menerima reaksi saya seperti itu. Tidak terbayang di pikirannya kalau saya akan mendatanginya, berbicara sambil menatap matanya lekat-lekat dan dengan volume tinggi. Jelas-jelas dia terlihat terkejut. Belum lagi dia sempat berkata apa-apa, saya melanjutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>I knew what I was doing. Don’t tell me what bus to take because I know the schedule. I have been using the same bus for a few months now. I also knew the bus departed from the same bus stop at 8.25 am. I saw the schedule in the bus stop with my OWN EYES. The problem was that the bus did not stick to the schedule today. No bus came until 8.40 when we decided to take a taxi. That’s why we were late!</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Felicity makin tercengang, semua orang berhenti bekerja sejenak melihat kejadian yang tidak biasa itu. Dalam keterkejutannya Felicity tidak bisa berkata apa-apa karena saya berbicara cepat dan keras.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>In Australia</em>” saya lanjutkan, “<em>we belive in the system. If I cannot rely on the system, whom should I believe? YOU? NO WAY! I don’t believe you!</em>”</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Shocked</em> dengan kata-kata saya. Dia tidak bisa berbuat banyak. Baru kali itu saya melihat seorang Felicity diam sekian lama mendengarkan orang lain bicara. Sudah jadi tradisi dia akan mendominasi pembicaraan dan cenderung terdengar menggurui. Saya tidak berhenti menatap matanya, menunggu reaksinya dengan berdebar-debar. Mengingat perangainya selama ini, bukan tidak mungkin dia akan murka dan bisa jadi itu berakibat fatal terhadap ‘karir’ saya. Tidak hanya itu, ada kekhawatiran kalau tindakan saya akan berpengaruh terhadap Rina dan teman-teman karyawan lainnya. Meski begitu, semua sudah terjadi, sudah kepalang basah. Saya siap menerima kemungkinan terburuk sekalipun.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>OK Andi,</em>” katanya dengan nada yang tidak lagi tinggi, “<em>I will check with the government</em>” Felicity berlalu dari hadapan saya dan saya merasa sedikit lega dengan reaksinya yang tidak menambah panas suasana. “<em>Please do</em>” saya berkata dan berusaha lebih tenang. Saya memang mengharapkan dia segera mengecek kebenaran kata-kata saya dengan menghubungi Sydney Busses. Sementara itu teman-teman lain mulai bekerja lagi dengan wajah yang menyimpan sejuta pertanyaan. Diam-diam saya lihat Rina yang melihat saya dengan wajah puas. Saya tersenyum dalam hati meskipun masih was-was menunggu kelanjutan ceritanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Samar-samar saya mendengar Felicity berbicara dengan nada tinggi lewat telepon. Saya bisa bayangkan, dia mengajukan complain kepada Sydney Busses atas pelayanan yang kurang bagus pagi tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Ok Andi, I have checked with Sydney Busses. You were right. I am sorry</em>” katanya tanpa beban dan dengan wajah yang tulus meskipun tidak tersenyum. Saya terharu mendengar seseorang yang biasanya galak itu mengucapkan maaf kepada saya di depan banyak orang. Saya menyadari satu hal, betapa ksatria sesungguhnya perempuan galak ini. “<em>No worries, Felicity. I understand</em>” kata saya sambil berusaha tersenyum. Saya belajar banyak hal sekaligus. Pertama adalah soal bersikap tegas di saat tidak mudah dan bahwa gertakan juga perlu sekali waktu. Kedua adalah tentang kemauan menguji kebenaran informasi dari sumber terpercaya meskipun itu bertentangan dengan apa yang dipercaya. Ketiga, dan ini yang paling penting, adalah keberanian meminta maaf kepada siapapun jika memang terbukti kita bersalah. Ini bukanlah pelajaran baru dan hampir semua orang sudah tahu tetapi pelajaran ini dihadirkan kembali di depan saya dengan cara yang sangat menarik pagi itu.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/contemplations/'>Contemplations</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1819/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1819&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/27/sekali-waktu-gertakan-juga-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sesawi.net/wp-content/uploads/2011/10/gertak.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pisang dan rambutan</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/27/pisang-dan-rambutan/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/27/pisang-dan-rambutan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 06:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Contemplations]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1817</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perjalanan dari Kaliurang menuju kota Yogyakarta, saya melihat penjual pisang dan rambutan di pinggir jalan. Dari sekian banyak, di deretan paling selatan nampak dua perempuan yang sudah tidak muda lagi menjajakan dagangannya. Seorang perempuan yang sudah layak dipanggil simbah menjual pisang emas yang kuning berkilauan. Di dekatnya duduk seorang perempuan lebih muda menjajakan rambutan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1817&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 272px"><img class="  " src="http://blog.baliwww.com/wp-content/photos/biu_banana_danthecam.jpg" alt="" width="262" height="197" /><p class="wp-caption-text">Dipinjam dari http://blog.baliwww.com/</p></div>
<p style="text-align:justify;">Dalam perjalanan dari Kaliurang menuju kota Yogyakarta, saya melihat penjual pisang dan rambutan di pinggir jalan. Dari sekian banyak, di deretan paling selatan nampak dua perempuan yang sudah tidak muda lagi menjajakan dagangannya. Seorang perempuan yang sudah layak dipanggil simbah menjual pisang emas yang kuning berkilauan. Di dekatnya duduk seorang perempuan lebih muda menjajakan rambutan. Tergoda oleh buah-buahan itu, saya berhenti tidak jauh dari mereka lalu berjalan mendekat. Asti dan Lita juga turun dari mobil, kami siap membeli pisang. Bagi saya, pisang adalah barang mewah karena harganya memang sedang mahal di Australia. Liburan di Indonesia harus dimanfaatkan untuk menikmati buah-buahan tropis yang berlimpah dan tidak mahal. Bisa dibayangkan berbinarnya saya melihat pisang yang di Australia bisa berharga lebih dari Rp 50 ribu sekilonya berisi 5 atau 6 bulir saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1817"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Pinten Mbah?</em>” saya bertanya sambil menyentuh setandan pisang yang ranum kuning berkilauan.<br />
“<em>Kalih doso Mas</em>” kata simbah dengan polosnya. Saya seperti tidak percaya. Bagaimana mungkin setandan pisang emas yang ranum dihargai hanya Rp. 20.000,- Sekali lagi, pisangnya setandan, bukan sesisir. Dari kualitas dan penampilannya, harga yang pantas seharusnya dua atau tiga kali lipat, demikian saya menduga. Tentu saja ini dugaan orang yang baru beberapa hari lalu bersusah payah meyakin-yakinkan diri untuk tetap membeli pisang di sebuah toko buah di Wollongong meskipun harganya meresahkan, jauh melebihi harga anggur hijau. Meskipun sangat puas dengan harga yang ditawarkan simbah, naluri Indonesia saya tetap ada dan kental. Saya tahu, barang yang dijajakan di pinggir jalan akan ditawarkan dengan harga yang hampir dua kali lipat harga final. Saya optimis, jika pisang ini saya tawar 15 ribu, simbah sudah akan senang dan dengan beberapa saat negosiasi pasti beliau merelakan dagangannya untuk saya.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Gangsal welas nggih Mbah?</em>” saya mencoba peruntungan. Motivasinya hanya sekedar ingin tahu, tentu bukan untuk menawar yang sesungguhnya.<br />
“<em>Tambahi kalih ewu nggih Mas</em>” katanya mencoba bernegosiasi. Di saat seperti itulah saya tidak kuasa menahan gejolak perasaan. Pisang satu tandan ini akan dilepasnya dengan harga 17 ribu, kurang dari AUD 2. Sungguh istimewa. Ada rasa tidak tega. Saya telah mentapkan hati, menyusun sebuah rencana.</p>
<p style="text-align:justify;">Asti yang ada di sebelah saya menanyakan harga rambutan kepada perempuan di dekat simbah. Sekantong besar rambutan dengan berat antara 3-4 kilogram dihargai Rp. 7.500,-. Kembali saya heran. Mungkin saya yang tidak tahu harga barang tetapi di saat seperti itu saya tidak ingin menyesuaikan diri dengan harga pasar. Saya hanya melihat bahwa setelah berjuang mewalan panas dan menjunjung barang dagangannya yang berat, perempuan ini hanya akan mendapatkan uang Rp. 7.500,- dari saya. Kami tidak berlebihan secara ekonomi tetapi hampir setiap hari merelakan uang sejumlah itu untuk tukang parker, pengemis dan pengamen yang hanya bertepuk tangan di perempatan jalan. Sementara bagi si perempuan itu, Rp. 7.500,- harus ditukarnya dengan panas terik dan keringat. Polusi dan bising pinggir jalan tentu saja bukan barang baru baginya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengeluarkan sejumlah uang kertas dari saku, saya serahkan sejumlah uang kepada simbah dan kepada perempuan di sampingnya. Ketika mereka dengan sigap hendak memberikan kembalian, dengan serta merta saya tolak halus. Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi kami sudah menghilang di balik pintu mobil dan melaju. Entah apa yang dipikirkan oleh kedua perempuan pekerja itu, yang jelas kami mnenghabiskan waktu yang lama untuk membicarakan mereka. Tidak mudah untuk menyadari bahwa di sudut kota Yogyakarta masih ada orang yang menjual pisang dan rambutan dengan harga sedemikian di penghujung 2011 ini. Sekali lagi, bisa jadi ini adalah harga yang sangat wajar dan bisa jadi juga saya telah membayar terlalu mahal untuk apa yang saya dapatkan tetapi saya ingin menilai kenikmatan yang ditawarkan secara absolut. Kepuasan yang saya dapatkan dari pisang dan rambutan yang bisa berlangsung tiga hari itu ternyata hanya berharga 28 ribu atau sekitar AUD 3.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika bagi sebagian orang uang 28 ribu itu bisa ditukar dengan semangkuk bakso di Bandara yang sebenarnya tidak begitu diperlukannya, simbah dan perempuan itu menukarnya dengan keringat, terik matahari serta segepok pisang dan rambutan. Yang lebih menarik, 28 ribu itu akan ditukarnya dengan imbalan bukan untuk memanjakan nafsu tetapi untuk melangsungkan hidup yang nampaknya tidak mudah. Saya tercenung lama, tidak bisa berbuat banyak dan tidak bisa berteori hebat. Ada semacam pesan yang mengingatkan untuk lebih sering membeli kebutuhan hidup dari simbah dan kawan-kawannya di pinggir jalan itu. Pelan-pelan saya menyadari, ada kisah yang istimewa di balik kilauan dan ranumnya pisang dan rambutan yang berjejer di pinggir jalan di Kaliurang itu.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/contemplations/'>Contemplations</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1817/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1817/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1817&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/27/pisang-dan-rambutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blog.baliwww.com/wp-content/photos/biu_banana_danthecam.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Profil Video I Made Andi Arsana</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/21/profil-video-i-made-andi-arsana/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/21/profil-video-i-made-andi-arsana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 09:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1815</guid>
		<description><![CDATA[Filed under: Renungan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1815&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://madeandi.wordpress.com/2011/12/21/profil-video-i-made-andi-arsana/"><img src="http://img.youtube.com/vi/FfR7If7hy0A/2.jpg" alt="" /></a></span>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1815/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1815/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1815&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/12/21/profil-video-i-made-andi-arsana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Parkir</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/30/parkir/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/30/parkir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 17:31:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1807</guid>
		<description><![CDATA[Genjo megadakan reuni, temu kangen dengan teman-temannya sesama lulusan luar negeri. Belum lengkap satu bulan mereka di tanah air, kerinduan sudah memuncak dan mereka memutuskan untuk mengadakan reuni. Isinya sederhana saja, kangen-kangenan sambil mengenang segala kehebatan luar negeri. &#8220;Eh tahu nggak, aku stress sebagai pemakai jalan di Indonesia&#8221; Akbar membuka percakapan. &#8220;Kenapa?&#8221; Genjo bertanya polos. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1807&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Genjo megadakan reuni, temu kangen dengan teman-temannya sesama lulusan luar negeri. Belum lengkap satu bulan mereka di tanah air, kerinduan sudah memuncak dan mereka memutuskan untuk mengadakan reuni. Isinya sederhana saja, kangen-kangenan sambil mengenang segala kehebatan luar negeri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1807"></span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eh tahu nggak, aku stress sebagai pemakai jalan di Indonesia&#8221; Akbar membuka percakapan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kenapa?&#8221; Genjo bertanya polos.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Pemakai jalan di Indonesia gila semua. Ngeri aku. Beda banget sama di Melbourne. Di sini ugal-ugalan semua, bikin kesel!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh&#8221; Genjo berkomentar singkat.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tapi ada juga yg aku suka di sini&#8221; Akbar menambahkan dengan semangat.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Apa itu?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Di sini mudah menemukan tempat parkir dan murah. Kalau mau jalan setelah parkir juga gampang. Betapapun rame lalu lintas, tukang parkir pasti bisa menghentikan lalu lalang kendaraan. Akibatnya aku bisa berjalan dengan leluasa, tidak perlu menunggu lalu lintas sepi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh gitu ya?!&#8221; Genjo yang tidak punya mobil mencoba menebak-nebak pengalaman Akbar itu.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Eh <em>sorry</em>, aku telat tadi. Aku kesel banget tadi di jalan. Kebayang nggak sih, di jalan yang rame banget, tukang parkir seenaknya saja menghentikan lalu lintas karena memberi kesempatan bagi yang parkir di pinggir jalan untuk melaju duluan. Selama perjalanan tadi, mungkin lebih dari 13 kali aku dihentikan tukang parkir. Males banget jadinya!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh&#8221; Genjo kembali berkomentar singkat, tidak mampu menangkap kejanggalan kisah Akbar yang mencintai dan membeci hal yang sama.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1807/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1807/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1807&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/30/parkir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebaikan kecil</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/16/kebaikan-kecil/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/16/kebaikan-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 02:26:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1803</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah membaca sebuah artikel di pertengahan tahun 1990an yang cukup menarik. Menurut artikel itu, orang sering merasa kagum dan bahkan terkesima kepada orang yang jujur, misalnya jika orang itu mengembalikan sebuah dompet yang ditemukannya di jalan. Yang menarik, artikel itu menganggap tindakan mengagumi itu sesungguhnya perwujudan dari kerusakan moral yang terjadi di masyarakat. Lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1803&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/eddy.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1804" title="eddy" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/eddy.png?w=500" alt=""   /></a>Saya pernah membaca sebuah artikel di pertengahan tahun 1990an yang cukup menarik. Menurut artikel itu, orang sering merasa kagum dan bahkan terkesima kepada orang yang jujur, misalnya jika orang itu mengembalikan sebuah dompet yang ditemukannya di jalan. Yang menarik, artikel itu menganggap tindakan mengagumi itu sesungguhnya perwujudan dari kerusakan moral yang terjadi di masyarakat. Lebih jauh artikel itu membahas bahwa berbuat kebaikan seperti itu adalah sebuah keharusan karena diwajibkan agama, dibenarkan norma dan bahkan dianjurkan hukum. Singkatnya, mengembalikan dompet yang tertinggal kepada pemiliknya tidak lebih dari sekedar melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini tidak berbeda dengan makan atau sikat gigi. Perlukah orang dikagumi atau dipuji-puji berlebihan gara-gara rajin makan atau sikat gigi? Anak muda sekarang mungkin bilang “<em>biasa aja kaleee</em>”.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1803"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Saat naik kereta di dari <a href="http://maps.google.com/maps?q=from+Sydney+Town+Hall,+George+Street,+Sydney,+New+South+Wales,+Australia+to+Circular+Quay,+Sydney,+New+South+Wales,+Australia&amp;saddr=Sydney+Town+Hall,+George+Street,+Sydney,+New+South+Wales,+Australia&amp;daddr=Circular+Quay,+Sydney,+New+South+Wales,+Australia&amp;hl=en&amp;sll=37.0625,-95.677068&amp;sspn=36.915634,57.392578&amp;geocode=FdUi-_0dwjkDCSH2AEMFHT1msQ%3BFR5P-_0dMkoDCSnHcht9Xa4SazEFDVBL_iFLAA&amp;vpsrc=0&amp;t=m&amp;z=15" target="_blank">Town Hall menuju Circular Quay di Sydney</a> tanggal 13 November 2011, saya menemukan sebuah telepon celuler <a href="http://www.samsung.com/global/microsite/galaxys2/html/" target="_blank">Samsung Galaxy S II</a> yang canggih itu. Telepon itu tergeletak di lantai, sepertinya terjatuh dari tangan pemiliknya. Ada beberapa kawan bersama saya dan kami sepakat untuk mengamankannya. Saya yang melihatnya pertama kali dipercaya untuk membawa barang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam, tentang kebaikan. Saya pernah tulis di blog ini tentang orang murah hati yang <a href="http://madeandi.wordpress.com/2004/11/08/many-good-men/" target="_blank">mengembalikan HP saya saat tertinggal di bus kota di Sydney</a>. Entah mengapa ada koneksi kuat antara kejadian tujuh tahun silam itu dengan Samsung Galaxy S II yang saya temukan. Ini saatnya saya melunasi kebaikan yang pernah dilakukan orang terhadap saya. Tekad ini juga dimotivasi oleh sebuah kejadian penting di tahun 1998, ada orang yang mengembalikan dompet saya yang tertinggal di box telepon umum di Jogja, lengkap dengan segala isinya. Saya bahkan tidak mengetahui orang itu sampai hari ini karena dia datang ke tempat kos dan memberikan dompet itu kepada Ibu kos saya. Perburuan saya terhadap orang baik itu tidak berhasil (atau belum berhasil?) sampai sekarang. Rasanya kini saya diberi kesempatan melakukan kebaikan kecil untuk membalas semua kebaikan yang telah saya terima di masa lalu. Meminjam judul sebuah film, saya menyebutnya “<em><a href="http://www.imdb.com/title/tt0223897/" target="_blank">Pay it Forward</a></em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengajak beberapa kawan untuk beruding. Saya cetuskan pada mereka, kami harus mengembalikan HP itu kepada pemiliknya. Bagaimana caranya? Opsi yang ditawarkan adalah menyerahkan kepada petugas stasiun kereta atau polisi. Di negara yang cukup baik seperti Australia petugas kereta dan polisi sangat bisa dipercaya, rasanya ini pilihan aman. Meski demikian, keinginan saya yang sangat kuat menghadirkan ide lain. Saya bilang ke teman-teman bahwa saya yang akan mengembalikannya sendiri. Sebelum mereka menunjukkan keraguan, saya bilang setengah berkelakar, <em>“Guys, I know myself. I will do the job better than they can deliver. You watch me!</em>” Merekapun menyerah, mengetahui saya tidak bisa dibantah lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada semacam kekuatan, entah apa namanya, bahwa jika kita meyakini tekad dan niat baik diri sendiri, maka tidak ada hal lain yang lebih baik dari melakukan sendiri. Pastilah terdengar sangat arogan tetapi di sore itu saya merasakan hal yang sama. Bahwa polisi atau petugas stasiun tidak akan mungkin secara aktif mencari pemilik telepon ini dan mereka pasti akan menunggu laporan. Saya bisa melakukan lebih dari itu karena saya yang akan mencari pemiliknya. Bukan dia yang akan menemukan saya tetapi saya yang akan memburunya hingga ketemu.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam hari sesampainya di rumah di Wollongong saya meminjam charger dari Luhur, teman satu rumah yang kebetulan memiliki charger yang cocok. Saya tidak berhasil melihat isi HP itu, terutama daftar kontak di dalamnya. Tadinya saya berpikir sederhana saja, saya tinggal lihat kontak atau daftar koneksi terakhir dan menelpon salah satu nomor yang ada di sana, pasti sangatlah mudah. Malang, ternyata layar telepon itu dikunci dengan sandi tertentu dan saya tidak berhasil membukanya. Saya kemudian menyebarkan foto dan berita tersebut lewat Facebook dan Twitter. Berbagai komentar dari teman sangat membantu. Sayapun menghabiskan waktu yang cukup lama berselancar di dunia maya untuk mencari tahu tentang Samsung Galaxy S II yang sebelumnya tidak saya kenal.</p>
<p style="text-align:justify;">Ide yang sangat mudah adalah menunggu pemiliknya sadar akan HPnya yang hilang dan mencoba menelpon HPnya sendiri. Sampai menjelang pagi, telepon yang saya tunggu tidak datang. Ada keraguan apakah HP itu bisa dihubungi karena di sana tertulis “emergency call only”. Sementara itu saya tidak bisa mengetahui nomornya karena memang sama sekali tidak bisa dibuka layarnya. Sempat saya berpikir untuk menelpon nomor darurat 000 dan bertanya pada petugas “berapa nomor HP yang saya gunakan?” Saya membayangkan sebuah dialog yang agak aneh. Sementara orang di ujung telepon akan menjawab saya dengan pertanyaan yang siap mengantisipasi kegentingan, saya akan bertanya “<em>what is the number that I am calling you from?</em>’ Pasti akan terdengar sangat ajaib. Saya urungkan niat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Esok harinya saya harus bekerja sangat pagi dan HP itu saya tinggal di apartemen. Sekembalinya dari bekerja saya melihat sebuah tanda di layar HP yang saya curigai sebagai panggilan tak terjawab alias ‘<em>missed call</em>’. Urusan akan beres jika saya bisa tahu siapa yang telah menelpon itu. Masalahnya, sekali lagi, layar tidak bisa dibuka karema dipassword sehingga saya tidak bisa mengecek nomor yang baru saja melakukan kontak. Jika saja saya sabar, saya bisa saja menunggu sejam dua jam lagi dan pasti akan ada telepon yang masuk. Sayangnya saya tidak cukup sabar karena dalam hati sudah berjanji akan berlaku aktif dalam menemukan pemilik HP itu. Sayapun sempat me-mention Vodafone Australia dalam sebuah posting twitter karena HP tersebut menggunakan Vodafone. Vodafone membantu saya menyebarkan berita itu ke 14 ribuan followers dan menasihatkan untuk membawa HP itu ke polisi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/samsung.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1805" title="samsung" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/samsung.jpg?w=500" alt=""   /></a>Atas ide Luhur juga, saya coba memindahkan SIM card di HP tersebut ke HP saya, kalau-kalau ada nomor yang disimpan di SIM cardnya yang bisa dikontak. Karena tidak terbiasa dengan Samsung, saya tidak tahu cara membuka back covernya. Akhirnya Youtube memberi jalan keluar. Sayang sekali saya tidak berhasil menemukan nomor yang disimpan di SIM card meskipun SIM card bekerja dengan baik di iPhone saya. Dengan SIM card itu, sayapun kemudian menelpon seorang kawan dari Thailand, yang juga ikut saat HP tersebut ditemukan. Dari dia, saya akhirnya mengetahui nomor HP Samsung tersebut. Saya pikir akan bermanfaat jika nanti saya harus menelpon Vodafone bahwa saya menemukan HP dengan nomor sekian, mungkin mereka bisa membantu meskipun saya tahu tidak akan mudah. Orang Australia sangat hati-hati dengan privasi. Tidak mudah untuk mencari informasi nama orang kalau kita mengetahui nomor HPnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya lalu mengembalikan SIM card itu ke hp Samsung. Terjadilah ‘keajaiban kecil’ itu. Ternyata saat dihidupkan, Samsung akan menampilkan beberapa informasi termasuk missed call terakhir yang muncul secara berkelebat, cepat sekali. Saya sangat senang melihat itu tetapi tentu saja kemunculan nomor itu terlalu cepat dan singkat sehingga saya tidak bisa mencatat, apalagi mengingatnya karena saya bukan termasuk orang degan kemampuan ‘photographic memory’. Sayapun berpikir, bagaimana caranya merekam nomor telepon yang muncul sekejap mata itu. Akhirnya saya menggunakan ‘photographic memory’ dalam arti sebenarnya. Saya mematikan HP itu dan menghidupkannya kembali. Saat yang sama saya sudah menyiapkan kamera di iPhone dan segera memotret layar Samsung saat dia menampilkan nomor ‘missed call’ tersebut. Hasilnya luar biasa. The moral of the story: boleh saja kita tidak hebat dalam mengingat sesuatu tetapi kita punya alat untuk merekam sesuatu dengan cepat. Saya ingat ketika Einstein ditanya 1 mil setara dengan berapa kaki, dia menjawab “Gue kaga ngarti dah, kenapa gue harus ngejejelin otak gue sama hal-hal yang sebenernya bisa gue temuin di buku-buku pelajaran dalam waktu dua menit?” Tentu saja ini versi Eistein gaul, tapi tidak AL4Y <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Kalau saya bilang, mengapa kita harus punya ‘photographic memory’ kalau sekarang kita bisa membawa kamera ke mana-mana. Nyambug nggak?</p>
<p style="text-align:justify;">Sayapun segera menelpon nomor yang tadi ‘missed call’ tersebut. Nama orangnya Edward, ternyata dia pemilik HPnya. Susah diceritakan betapa senangnya dia ketiaka saya jelaskan semuanya. Dia terkejut sekaligus sulit percaya ada yang akan mengembalikan HPnya. Singkat cerita, kami berjanji akan bertemu di Wollongong. Edward bekerja di Sydney dan akan datang ke Wollongong malam hari. Hari itu jadwal saya agak padat karena sedang mendampingi delegasi dari Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Pertemuan malam hari dengan Edward tentu sesuai dengan jadwal saya. Satu yang saya pesankan kepada dia “<em>I don’t want to complicate things Edward, but I want you to convince me that I give the phone to the right person</em>”. Tentu saja saya perlu meyakinkan bahwa saya memberi HP itu kepada pemiliknya bukan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam hari sekitar pukul setengah 9 malam tanggal 14 November 2011 saya bertemu Edward. Eddy nama panggilannya. Dia orang New Zealand yang bekerja di sebuah bank di Sydney, baru 8 bulan di Australia. Dari ceritanya, dia pernah bekerja di China dan ingin bekerja di luar negeri lebih banyak. Tentu saja percakapan lebih banyak diisi dengan ucapan terima kasih. Dia mengajak saya makan malam tetapi saya terpaksa menolak karena sudah makan. Saya sendiri sudah bertekad tidak akan menerima imbalan apapun. Saya serahkan HP itu dan ternyata dia memang bisa membuka layarnya, berarti dia tahu passwordnya. Fakta tersebut cukup meyakinkan saya bahwa itu adalah HPnya. Satu lagi, saya bertanya alamat emailnya dan mengirim email kepadanya lewat iPhone saya. Dia menunjukkan email itu bisa diterima di HPnya dan kemudian dia membalas saya. Rasanya dua hal itu sudah menujukkan dia adalah pemilik yang sah. Selain itu saya memotretnya sebagai bukti untuk kawan-kawan saya bahwa saya sudah menunaikan tugas dengan baik. Selain itu, saya juga meminta dia mengirimkan email pada beberapa kawan yang mengetahui perihal penemuan HP tersebut. Dia melaksanakannya ‘on the fly’, saat itu juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari telah larut dan gelap, saya pulang mengayuh sepeda dengan perasaan lega. Lega karena tindakan kecil itu telah membahagiakan seseorang yang tidak saya kenal. Lega karena kebaikan kecil itu berjalan alami sebagaimana seharusnya sesuatu berjalan di muka bumi ini. Komentar dan dukungan teman-teman lewat Facebook dan Twitter sangat mencerahkan dan mengharukan. Satu komentar dari kawan lama, Indra Adnyana, menegaskan “<em>this is the thing that makes us still believe in humanity</em>”. Sangat menyentuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada harapan, saya tidak menjadi terlalu bangga dengan apa yang saya lakukan karena apa yang terjadi tidak lebih dari sekedar sikat gigi. Memang demikianlah seharusnya jika seseorang menemukan barang yang bukan miliknya. Tapi dengan menceritakan ini di blog, kini pembaca tahu bahwa saya hanyalah salah satu orang kebanyakan yang merasa bahwa sebuah kebajikan kecil adalah sesuatu yang istimewa. Meski demikian, mudah-mudahan ini tidak lebih dari sekedar keisengan berbagi, berharap sesuatu yang baik itu menular. Kita mungkin tidak bisa membalas kebaikan orang yang membantu kita tetapi seperti yang dipesankan Trevor McKinney, kita bisa membayar kepada orang lain yang membutuhkan. “<em>Pay it forward</em>” katanya.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1803&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/16/kebaikan-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/eddy.png" medium="image">
			<media:title type="html">eddy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/samsung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">samsung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vacuum Cleaner dan Mop</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/12/vacuum-cleaner-dan-mop/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/12/vacuum-cleaner-dan-mop/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 18:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Contemplations]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1800</guid>
		<description><![CDATA[Kalau saja Anda melewatkan masa kecil di sebuah desa terpencil bernama Tegaljadi bersama saya, Anda akan tahu bahwa memiliki alat pel di tahun 1980an adalah kemewahan. Menjelang tahun 1990 keluarga saya memiliki alat pel dengan gagang sedemikian rupa dan sumbu-sumbu berjuntai. Belakangan saya juga tahu, alat ini disebut mop dalam bahasa Inggris. Saya, terutama kakak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1800&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1801" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/vc.jpg"><img class="size-medium wp-image-1801" title="vc" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/vc.jpg?w=300&#038;h=241" alt="" width="300" height="241" /></a><p class="wp-caption-text">vacuum cleaner</p></div>
<p style="text-align:justify;">Kalau saja Anda melewatkan masa kecil di sebuah desa terpencil bernama Tegaljadi bersama saya, Anda akan tahu bahwa memiliki alat pel di tahun 1980an adalah kemewahan. Menjelang tahun 1990 keluarga saya memiliki alat pel dengan gagang sedemikian rupa dan sumbu-sumbu berjuntai. Belakangan saya juga tahu, alat ini disebut mop dalam bahasa Inggris. Saya, terutama kakak saya, sering mendapat tugas ngepel lantai setidaknya sekali sehari setiap sore. Inti dari ngepel lantai adalah menggosok sekuat mungkin hingga kotoran terkikis dari lantai. Jika terburu-buru karena tidak ingin melewatkan episode terayar sandiwara radio Misteri Gunung Merapi, gerakan menggosok harus cepat dan makin kuat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1800"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman menggunakan alat pel masih membekas sampai kemudian saya berkenalan dengan vacuum cleaner tahun 2004. Meski sudah mengetahui keberadaannya sejak lama, saya baru menggunakan vacuum cleaner secara rutin saat sekolah di Sydney. Lantai apartemen yang berkarpet mewajibkan saya menggunakan vacuum cleaner, bukan sapu, apalagi alat pel. Sejak bekerja paruh waktu jadi petugas kebersihan di sebuah tempat hiburan, saya menggunakan vacuum cleaner lebih sering lagi, hampir setiap hari. Setiap kali menggunakannya, ingatan saya melayang ke tahun 1980an ketika harus menggosok lantai dengan alat pel.</p>
<p style="text-align:justify;">Vacuum cleaner dan mop memang berbeda, meskipun fungsinya mirip: untuk membersihkan lantai. Saya yang terlatih menggunakan mop di masa kecil sering kali melakukan kesalahan saat menggunakan vacuum cleaner. Sering sekali ujung penghisap itu saya gerakkan cepat seperti menggerakkan alat pel, berharap pekerjaan lebih cepat selesai. Selain itu, di luar kesadaran, saya juga sering menekan ujung penghisap kuat-kuat ke karpet, terutama jika ada kotoran yang agak banyak. Lagi-lagi, ini adalah pengaruh dai kebiasaan menggunakan alat pel. Saya menyebut ini sebagai “vacuum cleaning with mopping approach”, menggunakan vacuum cleaner tetapi dengan tatacara alat pel.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah memperhatikan, saya akhirnya tahu vacuum cleaner memang membersihkan dengan cara menghisap kotoran. Ujung penghisap perlu diberi waktu yang cukup untuk melintas di atas karpet Karena saat melintas itu dia menghisap kotoran. Meski boleh bergerak cepat, tetap ada toleransi kecepatan sehingga mata penghisap punya cukup waktu untuk membersihkan karpet yang dilaluinya. Semakin bagus daya hisapnya maka kecepatan geraknya boleh semakin cepat. Intinya, menggerakkan ujung penghisap vacuum cleaner harus berbeda tatacaranya dengan menggerakkan alat pel. Dengan alat pel, kebersihan bisa diwujudkan dnegan kekuatan menekan dan kecepatan menggosok.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jika seorang supervisor membuka lowongan kerja, dia harus pastikan bahwa keterampilan yang dibutuhkan untuk ngepel lantai dengan vacuum cleaning itu berbeda. Seorang yang canggih menggunakan alat pel belum tentu langsung bisa memakai vacuum cleaner. Perlu membiasakan dan pelatihan akan sangat membantu. Jika hendak melakukan reshuffle karyawan maka harus dipastikan memilih yang keterampilannya sesuai. Yang agak repot adalah kalau ada karyawan yang seharusnya diganti tetapi terpaksa hanya dipindahtugaskan karena dia masih bagian dari keluarga besar. Akan celaka kalau karyawan ini tadinya hanya bisa ngepel, tiba-tiba dipindahkan ke bagian vacuum. Tanpa pelatihan, dijamin karyawan ini akan galagapan dan perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Kalau Anda memiliki kewenangan untuk ,me-reshuffle pegawai, saya sarankan untuk menempatkan mereka yag kuat menekan dan cepat menggosok di bagian ngepel lantai. Sedangkan vacuum cleaner perlu dikendalikan oleh mereka yang sedikit lebih sabar dan rela membiarkan ujung alat pengisap untuk menunaikan tugasnya secara wajar tanpa tergoda untuk menekan dan menggosok berlebihan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/contemplations/'>Contemplations</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1800/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1800/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1800&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/12/vacuum-cleaner-dan-mop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/vc.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">vc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengemis cantik</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/10/pengemis-cantik/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/10/pengemis-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 14:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1794</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan. Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1794&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/tanahlot.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1795" title="tanahlot" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/tanahlot.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a>Saya sedang menunggu bus di sebuah halte di dekat Woolworth di Kota Wollongong. Pagi itu baru pulang kerja, lelah dan agak mengantuk. Bisa dibayangkan, winter yang dingin, pagi yang beku dan saya yang kelelahan. Tampang pastilah tidak menjanjikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang cewek cantik tiba-tiba saja sudah di deapn saya mengulurkan tangannya. Antara sadar dan ngantuk saya akhirnya tahu dia minta uang. “<em>Do you have 2 dollars and fifty cents please?</em>” katanya memelas. Cewek ini cantik, berpakaian agak terbuka untuk ukuran winter. Dari tampangnya sama sekali tak terlihat dia miskin. Rambutnya gaya, celana jeans ketat, jaket juga gaul. Wajahnya jelas ber-make up secukupnya layaknya anak muda.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1794"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Saya sempat berpikir sejenak. Hal seperti ini bukan yang pertama. Mengejutkan memang, di negeri seperti Australia kadang ada saja yang meminta uang receh. Saya beberapa kali dimintai uang receh oleh anak-anak berpakaian sekolah, tetapi belum pernah saya berikan. Antara penasaran, ngantuk dan lelah, saya merogoh saku celana dan menyerahkan dua dollar kepada ‘pengemis cantik’ itu lalu tenggelam lagi dalam lamunan. Sekilas saya lihat dia menghambur ke dalam sebuah bus. Rupanya dia gunakan uang itu untuk membayar ongkos bus. Saya melupakannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa saat kemudian saya merasa ada yg memperhatikan tidakan saya itu. Sepasang bule yg berdiri di dekat saya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan cewek itu sambil berguman, entah apa yang dikatakannya. Dari gerak geriknya saya yakin, mereka tidak suka dengan apa yang dilakukan cewek itu terhadap saya. Namun saya tidak punya waktu berinteraksi dan orang itu memang tidak berkomunikasi dengan saya. Saya hanya senyum saja lalu melanjutkan lamunan.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>She should not have done that to you</em>” tiba-tiba seorang ibu yang duduk di dekat saya berkomentar. Dia jelas tidak suka dengan tindakan cewek itu dan bersimpati pada saya. “<em>Embarrassing!</em>” katanya menambahkan. Saya hanya tersenyum, tidak tertarik melayani. “<em>You are so nice, where are you from?</em>” tanya ibu itu pada saya. “<em>Indonesia</em>” kata saya singkat sambil senyum. “<em>She should not have asked the money from you</em>” katanya menambahkan. Sampai di sini, saya senyum aja. Malas berdiskusi lebih lanjut. “<em>Indonesia is a poor country, you are a poor man. Why did you give the money to her?</em>” kata ibu itu meneruskan ucapannya. Kini saya tersentak kaget. Itu adalah kalimat yang jauh di luar dugaan saya. Kantuk saya jadi hilang, saya duduk tegak.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Excuse me!</em>” kata saya menatap wajahnya lekat-lekat. Saya merasa ada yang tidak beres dengan tuduhan itu. Saya pun harus angkat bicara. “<em>First, Indonesia is not a poor country. Watch your language Ma&#8217;am</em>” kata saya sambil tetap menatapnya. Dia nampak sedikit terkejut dengan respon saya. Tadinya dia sepertinya memang ingin menunjukkan rasa simpati pada saya tetapi dia telah memilih kata-kata yang salah. Saya kira orang akan setuju bahwa seorang warga bangsa bisa saja tidak enak hatinya ketika bangsanya dibilang miskin tanpa tedeng aling-aling, betapapun hal itu adalah kebenaran. “<em>Second, I gave the money because I wanted to. Not because she forced me to do so</em>&#8221; lanjut saya lagi, pelan tapi tegas. Entah darimana datangnya meluncurlah kalimat-kalimat berikutnya dari mulut saya.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>I don&#8217;t mind you question her value and her attitude, but please do not question mine. You should not preach me on what to do and what not to do. I believe I know what I have done.</em>” Ibu itu melihat saya, dia tidak kuasa menyembunyikan kekagetannya. Wajahnya tidak begitu bahagia. Saya lanjutkan “<em>My value is: if someone comes to me in need and if I can help, I will do. That&#8217;s what I believe. If she did not deserve my help, or if she fooled me for only 2.5 dollars, that&#8217;s her problem. Not mine. I am offended, Ma&#8217;am when you said that Indonesia is a poor country and I am a poor man!</em>” Perempuan yang kelihatan mapan itu terperangah, sama sekali tidak menduga reaksi saya. Saya menatapnya dengan senyum, kali ini pastilah dingin. “<em>Where are you from Ma&#8217;am?&#8221;</em> saya tanya karena pertanyaan serupa disampaikan ke saya tadi. Dia gelagapan. “<em>I am Australian</em>”, katanya. “<em>I am offended</em>” kata saya mengulangi pernyataan sebelumnya. Masih menatap wajahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>I am really sorry</em>” katanya terbata dan agak memelas. Ada penyesalan di wajahnya, saya dengan serta merta jadi kasihan kepada perempuan bule itu. “<em>That&#8217;s OK, Ma’am</em>”, kata saya menyudahi percakapan itu. Saya kembali diam. Kali ini sambil berpikir, menimbang-nimbang apakah saya berlebihan. Bisa jadi, tetapi naluri kebangsaan memang bisa terusik kapan saja. Nasionlisme bisa terusik ketika seorang perempuan bule perlente dengan mudahnya menuduh bangsa saya miskin hanya gara-gara saya bertampang gelandangan duduk tepekur di sebuah halte bus di Wollongong. Dia tentulah tidak seperti anak-anak muda Australia yang menganggap Bali adalah sorga dan menjadikannya tujuan internasional pertama dalam hidupnya. Pengemis cantik itu boleh jadi kurang ajar tetapi mereka yang merendahkan bangsa lain, memang perlu mendapat pelajaran.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1794/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1794/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1794&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/11/10/pengemis-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/11/tanahlot.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">tanahlot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Say it with maps: popularizing geospatial</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/29/say-it-with-maps-popularizing-geospatial/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/29/say-it-with-maps-popularizing-geospatial/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 10:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1791</guid>
		<description><![CDATA[Recently, a Google Maps engineer, Ari Gilder, proposed his girlfriend, Faigy, for marriage using Google Maps for mobile. I call this as a geospatial marriage proposal. Ari describes in Google Blog how he managed to utilize My Maps in Google Maps to create a customized route for her girlfriend to follow. Using the map, Faigy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1791&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe width="500" height="100" frameborder="0" scrolling="no" marginheight="0" marginwidth="0" src="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&amp;msa=0&amp;msid=201524453504948488996.0004aaca23725a13d6cab&amp;vpsrc=6&amp;source=embed&amp;t=m&amp;ll=40.765461,-73.964767&amp;spn=0.013001,0.092697&amp;z=13&amp;output=embed"></iframe><br /><small><a href="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&amp;msa=0&amp;msid=201524453504948488996.0004aaca23725a13d6cab&amp;vpsrc=6&amp;source=embed&amp;t=m&amp;ll=40.765461,-73.964767&amp;spn=0.013001,0.092697&amp;z=13&amp;source=embed" style="text-align:left">View Larger Map</a></small>
<p style="text-align:justify;">Recently, a Google Maps engineer, Ari Gilder, proposed his girlfriend, Faigy, for marriage using Google Maps for mobile. I call this as a geospatial marriage proposal. Ari describes in Google Blog how he managed to utilize My Maps in Google Maps to create a customized route for her girlfriend to follow. Using the map, Faigy finally reached a place where Ari was anxiously awaiting her arrival at the Roosevelt Island lighthouse nearby Manhattan in New York City. Ari asked the big question and it turned out to be a very romantic and memorable married proposal.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1791"></span></p>
<p style="text-align:justify;">For geospatial people, creating an interactive map using Google Maps might not be that difficult but it can certainly be something special for those who do not know much about mapping. Interactive map, for geospatial people, might be part of day-to-day life but it can be the best thing for a girl like Faigy when the interactive map leads her to a life-changing proposal of marriage. This is what I refer to as giving a geospatial touch to non-geospatial issues. This is what we, geospatial community, should do more.</p>
<p style="text-align:justify;">Admittedly, in a country like Indonesia, becoming a surveyor or cartographer is not one of the most well-recognised professions to have. I am no surprised if this is also the case in other countries. This seems to be the reason why numbers of students studying surveying or geodetic engineering (or other variant names) are generally declining in developed countries. There is something to be done. The challenge is to convince people around us that geospatial discipline can really contribute something valuable to existing businesses. A geospatial married proposal like Ari has shown us is one of the ways we tell people that geospatial discipline is not untouchable. That it is also part of our daily life.</p>
<p style="text-align:justify;">I remember early in 2006, I wrote a piece for local newspaper in Semarang, Indonesia about Google Earth (GE). Back then, GE was just new and it revolutionised the way we treat geospatial data and information. Some of my colleagues did not see writing this piece as a special thing to do because for them GE is just another geospatial application. In contrast, GE is a revolution to me and it can be used to show the laymen how we work with geospatial data and information. A few hours after my article was published, I received an invitation from a land administration agency to give a talk on the advancement of geospatial science and technology and its role for land administration. If it was not because of the short popular writing, the opportunity would not have been there for me.</p>
<p style="text-align:justify;">In the centre where I am now doing my PhD in ocean affairs and the law of the sea, we have more lawyers and social scientists as opposed to surveyors or cartographers. People prefer to communicate using words, not maps. My contribution to add illustration maps to their writings (journals, books, reports) has changed things. It seems that adding animated maps to lecture materials of some senior professors also makes a difference. It is hard to imagine that previously those lawyers preferred words to describe location, maritime claims, and international boundaries while we can actually say it with maps.</p>
<p style="text-align:justify;">When I was asked to help with managing alumni data, I decided to create a map using alumni data to illustrate geospatial distribution of the alumni. Using Google’s Fusion Table (www.google.com/fusiontables/), mapping the distribution of the alumni was not a big deal. It is technically easy to do for geospatial people but it certainly generates a huge impression to non-geospatial people. Now many seem to agree that we can often say things better using maps.</p>
<p style="text-align:justify;">Earlier in September of this year, we, the Indonesian Community of Wollongong had a gathering to celebrate our 66th Independence Day. It was organised in a community building not far from the City. The organiser was nice enough to provide direction for new members on how to get to the venue. Here is the description sent by email:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Using a free bus, make a stop at Aldi and walk back toward the intersection close to a gas station. Then turn right and walk for about 200 metres, you will arrive at the venue. Alternatively, you can take a train and get off at Fairy Meadow station, take the left path toward the bridge, walk through and pass Aldi store so you will arrive at the gas station. After this you should follow the same direction until you reach the venue.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">In my opinion, being a geospatial person, the description will be better explained using a map. I then decided to create a customised map using My Maps in Google Maps illustrating the direction to the venue and send the link (http://bit.ly/q6HXGk) to the email group. The map might not completely replace the description but it certainly helped many people find their way. Undoubtedly, we can explain directions with maps.</p>
<p style="text-align:justify;">When Mount Merapi (Yogyakarta, Indonesia) exploded last year, many Indonesians living overseas were worried, especially when alert and safety zones were advised by the government. They were curious whether or not their houses and families were safe back home. To help them I created a simple map using My Maps in Google Maps showing various circles with different radii (http://bit.ly/ooLhFQ). I added common placemarks such as universities, palace, and airport to help readers navigate the map. Using that simple map they knew whether or not their family need to be evacuated.</p>
<p style="text-align:justify;">In the eyes of geospatial people, what Ari Gilder and I did are by no means great things but they can be life-changing for others. We, geospatial people, often underestimate our ability to contribute valuable things to people around us. In order for our profession to be more recognised, we have to think outside the box and this can mean simply turning what we use to consider as something ordinary into something extraordinary. It might not be for a marriage proposal, but we certainly can say a lot of things with maps.</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1791/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1791&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/29/say-it-with-maps-popularizing-geospatial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ganyang Malaysia, selamatkan Siti Nurhaliza?</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/18/ganyang-malaysia-selamatkan-siti-nurhaliza/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/18/ganyang-malaysia-selamatkan-siti-nurhaliza/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 23:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[Publications]]></category>
		<category><![CDATA[teknis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1788</guid>
		<description><![CDATA[Persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia tak kunjung berakhir. Setiap tahun selalu saja ada isu yang menjadi &#8216;musim panen&#8217; bagi media masa. Kali ini, isu perbatasan di Kalimantan (Borneo) yang menadi persoalan. Konon Malaysia mencaplok wilayah RI di Camar Bulan/Tanjung Datu. Banyak pihak emosi dan slogan &#8216;Ganyang Malaysia&#8217; kembali di teriakkan. Entahlah apakah kali ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1788&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Persoalan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia tak kunjung berakhir. Setiap tahun selalu saja ada isu yang menjadi &#8216;musim panen&#8217; bagi media masa. Kali ini, isu perbatasan di Kalimantan (Borneo) yang menadi persoalan. Konon Malaysia mencaplok wilayah RI di Camar Bulan/Tanjung Datu. Banyak pihak emosi dan slogan &#8216;Ganyang Malaysia&#8217; kembali di teriakkan. Entahlah apakah kali ini juga diikuti oleh slogan lain yang terdengar lebih lucu &#8216;selamatkan Siti Nurhaliza&#8217;. Ingin tahu duduk perkara kasus ini? Silakan simak analisis saya di <a href="http://www.borderstudies.info/?p=1224" target="_blank">BorderStudies.info</a>.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 502px"><img class=" " src="http://www.borderstudies.info/wp-content/uploads/2011/10/datu.png" alt="" width="492" height="332" /><p class="wp-caption-text">Perbatasan Indonesia-Malaysia di Camar Bulan</p></div>
<p style="text-align:justify;">
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/publications/'>Publications</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/teknis/'>teknis</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1788/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1788/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1788&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/18/ganyang-malaysia-selamatkan-siti-nurhaliza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.borderstudies.info/wp-content/uploads/2011/10/datu.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>A story of Bapak Pucung family</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/08/a-story-of-bapak-pucung-family/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/08/a-story-of-bapak-pucung-family/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 15:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1782</guid>
		<description><![CDATA[A story by Andi Arsana Once upon a time in a beautiful garden there lived an insect family of Bapak Pucung. Four of them in the family: Bapak Pucung, Ibu Pucung and two children: Ana Pucung and Dody Pucung. They are beautiful family; their color is beautiful, orange with black spots on the wings. The [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1782&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">A story by Andi Arsana</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><img class="  " src="http://farm5.static.flickr.com/4048/4236747392_7372f831a2.jpg" alt="" width="210" height="140" /><p class="wp-caption-text">borrowed from flickr.com</p></div>
<p style="text-align:justify;">Once upon a time in a beautiful garden there lived an insect family of Bapak Pucung. Four of them in the family: Bapak Pucung, Ibu Pucung and two children: Ana Pucung and Dody Pucung. They are beautiful family; their color is beautiful, orange with black spots on the wings. The Pucung family members always spend their time talking to each other every time they can. Bapak Pucung is a wise father for the family and Ibu Pucung is a patient mother for her children. Ana is the oldest daughter and Dody is her little brother. They love each other.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1782"></span></p>
<p style="text-align:justify;">One day, they were having dinner together and they had a conversation.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ana, how is your school?&#8221; Bapak Pucung asked.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Good dad. Everything is all right at school. I love studying.&#8221; Ana replied her father.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Very good, Ana. Do you have a lot of friends at school?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yes, dad! a lot of them. They are very nice.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;How about you Dody, do you enjoy your kindy? Bapak Pucung asked Dody.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yes Dad, I like playing with my friends.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Very good Dody. I like to know you two enjoy your school.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;We should thank your mom for taking care of us&#8221; Bapak Pucung smiled to Ibu Pucung. They look so happy.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tomorrow, I am going to meet some friends in the garden close to the human school. I will fly there and my friends will be waiting for me in the trees close to the human school.&#8221; Bapak Pucung told the family about his plan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;What are you doing there, Dad?&#8221; Ana asked her father</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;We will find some food for us. We do not have more food left around here so I need to find food far away.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Why do you go to the human school, aren&#8217;t you scared?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Why should I be scared, Ana?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yes, you should because there are many humans there. They are children of humans. They can catch you if they see you there&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Do you think so?&#8221; Bapak Pucung was a bit worried.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yes, Dad. Be careful. The SD kids can be naughty. They can catch you and put you in a bottle.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;No, Ana. I will be careful. I think the SD kids are not that bad. They look nice.&#8221; Bapak Pucung calmed her daughter down.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yes, Kak Ana is right, Dad. Please be careful. We do not want to lose you&#8221; Dody added what Anna said to her father.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;OK kids, I will be careful. I will not be caught.&#8221; Bapak Pucung was so touched by his children.</p>
<p style="text-align:justify;">The family enjoyed their dinner and kept the conversation for a very long time. They are a happy insect family.</p>
<p style="text-align:justify;">The next day, early in the morning Bapak Pucung woke up already. He then prepared his journey to find food in the garden close to a human school. The school is named &#8220;SD Model Sleman&#8221; where many children are studying, Bapak Pucung flew to the garden even when his two children, Ana and Dody, were not yet awake. He had to go to the garden close to SD Model because he had to get food for the family.</p>
<p style="text-align:justify;">At 7 am, he arrived at a tree close to SD Model and joined his friends. There have been a lot of of pucung insects hanging on branches and leaves. There are hundreds of them. The color is beautiful, brown with black spots.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Attention everybody&#8221; an announcement made everybody quiet. A leader of Pucung was giving information.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Good morning my friends&#8221; said the leader</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Good morning leader&#8221; said the crowd.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Today we will find food for our family in this garden close to SD Model. We come here because we do not have enough food at home and it is getting more and more difficult to obtain food around our place. Thank God we can find a lot of food here. But be careful my friends, in this area, there are many children of human. Students of SD Model are a lot in number and some of them are naughty. Sometimes they come here in this garden to catch us. There is one girl named Dory and she is very naughty. Be careful with her and watch out. If you see a human coming please run before they catch you. Do you understand?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Yes, leader, we understand&#8221; said the crowd.</p>
<p style="text-align:justify;">Meanwhile, Bapak Pucung is now a bit worried. He remembered what Ana told him last night. He remembered his family back home and he misses them already. He promised to himself that he will be careful. He has to go back home for them and he does not want to be separated from them. Bapak Pucung started to collect some food. He traveled from one leave to others and from one branch to the next. He was so happy to see a lot of food and he had fun with his friends. They work happily and diligently. They work for nearly two hours without feeling tired because they are happy. Because they are so focused, they did not realized, a human girl was coming to them.</p>
<p style="text-align:justify;">The girl is Dory from SD Model. She is a naughty one. Soon as the girl arrived close to where Bapak Pucung was collecting food, her hand moved quickly to catch Bapak Pucung and his friends. Bapak Pucung could not run away and he was caught with four of his friends. Bapak Pucung tried to fly but Dory&#8217;s hand is too strong. Bapak Pucung cannot set himself free. Before he realized it, Dory has placed him and his friends in a bottle and closed the bottle tightly.</p>
<p style="text-align:justify;">Bapak Pucung screamed &#8220;help help help help&#8221; but nobody heard him because he is in a bottle. Meanwhile, his four other friends started crying. Five of them were in the bottle and started crying. Bapak Pucung tried to break the bottle but it was too strong. The bottle was made of strong glass and covered with a strong lid. He could not do anything. Meanwhile Dory keeps walking to find other pucungs. He caught more and more Pucung and put them inside the bottle. Now the bottle was very crowded because the bottle now contains a lot of Pucung. Bapak Pucung panicked and he could not breathe well because there are too many Pucung there and also because the lid was closed tightly. They desperately needed fresh air.</p>
<p style="text-align:justify;">Everybody in the bottle screamed hysterically. They asked for help. But Dory could not hear them because Dory is human and they are insects. Dory could not understand their language. When the pucung jumps and tried to fly in the bottle, Dory laughed. She thought the pucung were happy. They were actually not happy in the bottle. They are very sad and worried. They cried a lot and they are hopeless but Dory did not even know what they feel.</p>
<p style="text-align:justify;">Dory stopped catching pucung and now she came to her classroom. Everybody in the class, all human, came to see the pucung in the bottle. The pucung were actually crying and asked them to release them but the children do not understand their language. They are very sad and they could not breathe easily. They suffer but the human children look very happy. Only if they know that the pucung were suffering.</p>
<p style="text-align:justify;">Meanwhile, in the home of Pucung family, Ibu Pucung, Ana and Dody were waiting for his father. They all were sitting around a dining table waiting for Bapak Pucung to come. One hour, two hours.. Bapak Pucung did not turn up. Three hours.. four hours..still Bapak Pucung did not show up. Ana started to cry. She cried because she was worried. Ibu Pucung tried to calm her down but it did not work. Dody started to cry also. He did not want to lose his father.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mom, where is dad?&#8221; Ana asked her mom</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;I don&#8217;t know Ana. I hope he is coming very soon.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;But Mommy, this is very late already. Daddy might not come&#8221; said Ana and cried even louder now. Ibu Pucung started to cry also. She could not help herself.</p>
<p style="text-align:justify;">Three of them cried around the dining table because they have lost the father. Bapak Pucung might not return because he is now locked in a sealed bottle by a young girl named Dory. That night, the family was very very very sad and they keep crying all the night. The sound of crying was very touching and it make everybody hear it also cry. The night is very dark and they were still crying and crying. Ana and Dody missed their father. Ibu Pucung also missed her husband.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>TO BE CONTINUED…</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Meanwhile, at the same night at Dory’s house, everybody was sitting around a dining table. They were having dinner together and had conversation.</p>
<p style="text-align:justify;">“How was your school today Dory?” Dory’s father asked his daughter.</p>
<p style="text-align:justify;">“Good, Ayah. Everything is good.” Dory replied.</p>
<p style="text-align:justify;">“What did you study in school?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Math Ayah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh. Do you like math?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yes, of course! I love math”</p>
<p style="text-align:justify;">“Is it difficult?”</p>
<p style="text-align:justify;">“No Ayah. Not at all! Math is easy”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh really? Can I give you one question?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sure Ayah!” Dory was excited.</p>
<p style="text-align:justify;">“If I have two books, Ibu has ten books and you have three books, how many books are there in total?”</p>
<p style="text-align:justify;">Dory thought for a while and then answered “fifteen books Ayah!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Wow, great! You are very good, Dory”</p>
<p style="text-align:justify;">“Thank you Ayah” Dory replied politely and smiled.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah, I have something from school” Dory wanted to show something to her father.</p>
<p style="text-align:justify;">“What is that Dory?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Surprise surprise!” Dory took a bottle that she hided under the table. In a second, a bottle full of pucung was placed on the table. Dory was very proud of what he did.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wow. You have a lot of pucung in the bottle.” Dory’s father took the bottle and hold it. “Do you know what pucung is in English, Dory?”</p>
<p style="text-align:justify;">“No Ayah. What is it in English?” Dory was excited.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pucung is known as <strong>Red Cotton Stainer. </strong>Its Latin name is <em>Dysdercus Cingulatus-Fabricius.</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">“Wow, a very good name, Ayah”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yes. And they are beautiful too, right?! By the way, where did you get them from?</p>
<p style="text-align:justify;">“From garden close to my school, Ayah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, OK. Why did you catch them, Dory?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Because I love insect ayah. I love animals. You know that right?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ok. Why do you love animals?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Because I want to be a vet!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dory, listen to me, my dear” Dory’s father is now quite serious.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yes Ayah” Dory was listening to her father</p>
<p style="text-align:justify;">“I know you love animals and you want to be a vet. But look. Don’t you think the pucung are suffering?” Dory’s father was pointing at the bottle.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hm.. do you think, Ayah?” Dory looked worried.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yes I think so Dory. They must be very sad because they cannot breathe well. If you put a lot of them in the bottle, it will be crowded and they cannot get enough air to breathe.” Dory was still listening to her father.</p>
<p style="text-align:justify;">“And the most important thing, Dory. They must be sad because they are taken from their family. Do you know that pucung also have their family, just like us? Can you imagine how sad their kids are now at home?”</p>
<p style="text-align:justify;">Dory’s father looked sad also and Dory was listening to her dad carefully. She also looked a little bit sad.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dory, you are a nice girl and we are so proud of you. I know you love animals and you will be a great vet when you are grown up but we also have to know that animals also have their family. We cannot take them in a bottle because they will be very sad. Their children will be sad at home because they lose their parents. Can you imagine if somebody take me and put me in a bottle? You will be sad and Ibu will be sad, right?”</p>
<p style="text-align:justify;">Dory started to cry. She realized that what she did was wrong. Her dad came close to her.</p>
<p style="text-align:justify;">“That’s okay, honey. You do not have to be sad. I know you did this because you love animals. Now, that you know how bad this can be for pucung, you have to do something. What are you going to do with the pucung?”</p>
<p style="text-align:justify;">“I will release them Ayah” Dory answered while crying.</p>
<p style="text-align:justify;">“Very good my little girl. I am so proud of you”</p>
<p style="text-align:justify;">“And I will not catch pucung anymore Ayah. I promise.”</p>
<p style="text-align:justify;">“I am so happy to hear that Dory. You are a very nice and smart girl.” Dory’s father hugged his beautiful daughter.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayah, I want to release the pucung now.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yes, you can. Let me help you.” All of the family went out to the front page and Dory brought the bottle. In once second she opened the lid and let the pucung fly. One of the pucungs was Bapak Pucung.</p>
<p style="text-align:justify;">Bapak Pucung flew fast to his house and he arrived at night. He heard something from outside, his children were still crying. He knocked the door and he was really tired.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu Pucung opened the door and she was so surprised and happy to see her husband come home. They hugged each other and the kids also came to join them. Everybody was crying but now it was a happy one. They cried happily because Bapak Pucung came back safely.</p>
<p style="text-align:justify;">Bapak Pucung then joined them to have dinner and told everybody his tragic and heroic story. Everybody was impressed with the story.</p>
<p style="text-align:justify;">“I think Dory is a naughty girl, Dad!” Dody said something.</p>
<p style="text-align:justify;">“No, I don’t think so” Ana replied her brother</p>
<p style="text-align:justify;">“Why don’t you think so?” Dody could not accept that</p>
<p style="text-align:justify;">“Dory is not naughty. She just did not know yet what to do. When her father explained everything, Dory released our father. It means she is a good girl. She just needs to learn more.” Ana replied her brother wisely.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yes, Ana is correct.” Bapak Pucung agreed with Ana. “Dory is a nice girl. Now she understands that she cannot catch pucung like us. I believe she will be a very good vet someday.”</p>
<p style="text-align:justify;">The family members smiled to each other and they hold hands. They are so happy because now they can be together again. This is because of a nice girl named Dory.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>THE END</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">PS. The story was written for Lita because she caused a little trouble in her school by catching Bapak Pucung (<strong><em>Red Cotton Stainer</em></strong>) and put them in a bottle. Lita attracted attention from her friends in her class so that teaching activities were disturbed. This story really made Lita realized that catching insects and putting them in a bottle is not a good thing to do. Here is her response when the first part of this story was emailed to her</p>
<p style="text-align:justify;">&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">dear ayah,</p>
<p style="text-align:justify;">I want the story to be continued and I released the pucung already, all of them, three bottles. Unfortunately, some bapak pucung died. I am really sorry. I promise I will not catch Pucung again, I will put them in my garden.</p>
<p style="text-align:justify;">I like the story, I love you ayah</p>
<p style="text-align:justify;">love</p>
<p style="text-align:justify;">Lita</p>
<p style="text-align:justify;">&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">After the rest of the story emailed to Lita, here is her response</p>
<p style="text-align:justify;">&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">dear ayah,</p>
<p style="text-align:justify;">thank you for the story, it&#8217;s very nice.</p>
<p style="text-align:justify;">love</p>
<p style="text-align:justify;">lita</p>
<p style="text-align:justify;">&#8211;</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/cerpen/'>Cerpen</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/leadership/'>Leadership</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1782/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1782&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/08/a-story-of-bapak-pucung-family/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm5.static.flickr.com/4048/4236747392_7372f831a2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Discovering Jogja in Ho Chi Minh City</title>
		<link>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/02/discovering-jogja-in-ho-chi-minh-city/</link>
		<comments>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/02/discovering-jogja-in-ho-chi-minh-city/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 05:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andi Arsana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Geodesi UGM]]></category>
		<category><![CDATA[lucu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://madeandi.wordpress.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[I was standing in front of a street food vendor and staring at noodle and meatball, thinking of having something for dinner. A lady approached me and started talking in a language that I could not understand. I believed it was Vietnamese. I looked at her and smiled and shook my head to signal her [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1775&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1777" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/dagang.jpg"><img class="size-medium wp-image-1777" title="dagang" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/dagang.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Street vendors</p></div>
<p style="text-align:justify;" align="center">I was standing in front of a street food vendor and staring at noodle and meatball, thinking of having something for dinner. A lady approached me and started talking in a language that I could not understand. I believed it was Vietnamese. I looked at her and smiled and shook my head to signal her that I did not get it. Having realized that she was facing a foreigner, she called a man whom I believed to be her husband. She asked for help to communicate with me but apparently she called a wrong guy. The man spoke no English. What could I do?</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><span id="more-1775"></span></p>
<p style="text-align:justify;">I was thinking for a while and started to use my natural instinct. I demonstrated a sign language by pointing at the noodle and made a sign of eating by directing my hand to my mouth. Both of the lady and the man nodded enthusiastically as they understood what I wanted. They smiled happily and were ready to serve me. I stopped them and asked the price by saying “how much?” but they did not understand. It was a challenge but I did not give up. I took my wallet, which happened to have Vietnam Dong (VND) in it. I pulled a piece of VND 50,000 note out (yes, that much), waved it to them and asked for one more time “how much?” The man said “aha!” and moved toward an old drawer not far from where he was standing. He pulled the drawer out, which served as a cash box, and took one piece of VND 10,000 and one piece of VND 5,000 notes. He smiled and waved the money to me. I understood that one bowl of noodle soup, which I thought was very similar to Indonesian <em>soto</em>, costs me VND 15,000. The price equals to approximately IDR 7,000. Yes, Vietnam is one of the only few places where Indonesian rupiah rates higher than local currency.</p>
<div id="attachment_1778" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/motor.jpg"><img class="size-medium wp-image-1778" title="motor" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/motor.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Motorbikes</p></div>
<p style="text-align:justify;">As you could imagine, there was very limited communication between the vendors and me. I could not even manage to ask the name of the soup that I ate that night. Let me just call it <em>Vietnamese soto</em>. Nevertheless, the service was excellent. I was provided with a private small table with a small chair. The lady served me enthusiastically and brought a plate of pilled apple in pieces. I was not sure whether or not it was a standard service that they provide for every customer. I felt very special that night. Ho Chi Ming City (HCMC) that night was very friendly. It was very easy to think that I was in Jogja enjoying <em>soto ayam</em> in one of <em>pedagang kaki lima</em> in Malioboro. The only difference, probably, is that a foreigner like me would be charged a lot more expensive in Malioboro. This is just my guess.</p>
<p style="text-align:justify;">The lady sat next to me and tried to ask me some questions, even though she knew that I could not understand Vietnamese. While in the western countries like North America and Europe, that attitude may be considered impolite or even offensive, I viewed it as a sign of warmth and hospitality of Vietnamese and Asian people in general. I could see honesty in her eyes and her curiosity was just endless. I tried my best to respond to her but of course I could not speak Vietnamese. I found that speaking English did not help either. I was asking myself <em>why don’t I speak Bahasa Indonesia?</em> I was thinking and then a few minutes later I found myself talking in Bahasa Indonesia to her. Surprisingly, we went beyond language and we understood each other. Or at least, we thought we understood each other. We laughed and we had fun. The <em>Vietnamese soto </em>was very delicious and fresh. I could really taste the sourness out of fresh citrus lemon or something alike.</p>
<p style="text-align:justify;">Having finished the <em>soto</em>, I asked for drink. I made a sign of drinking and asked the lady in Bahasa Indonesia “<em>ada minum nggak?</em>” [what drink do you have?] The man saw me asking for drink and called me to come to him standing close to a cool box. He opened the box and I saw many kinds of soft drinks and tea. No talking involved, I took a bottle of coca cola and then asked for the price. Of course I waved some pieces of VND notes as a universal sign of asking price. He did not answer it verbally but took a piece of VND 5,000 from my hand. What an effective transaction.</p>
<p style="text-align:justify;">A few minutes later, I received a text message from an Indonesian colleague that I met during Mekong River Delta tour a few hours earlier. He asked me if I wanted to join him and his friends for coffee somewhere in the city. Of course I cared to join but how could I go there? I was asking myself. I decided to ask the man if he could transport me to the place I wanted to go by showing him the SMS on my mobile phone screen. I asked him in Bahasa Indonesia “<em>Ada ojek nggak?</em>” [any motorcycle taxi?], while giving a sign of riding a motorbike using my two hands. He said yes and went to get a motorbike that he parked not far from the place. He had two helmets ready, one for him and one for me. I do not really know whether or not he was really a commercial motorcycle taxi driver, I just did not really care. Before deciding to take his service I asked for the price, again, with VND note in my hand. He said something and showed me his two fingers. I guessed he would charge me VND 20,000, not VND 2,000 because it must be too cheap for a ride. I was right and he was very happy when I gave him a piece of VND 20,000 note. Around IDR 10,000 seems fair enough for such a ride.</p>
<p style="text-align:justify;">A few minutes later I was traveling along the busy road to the place I wanted to go in the city. The city has a lot of motorbikes, just like Yogyakarta. Street vendors were many and they all were busy. Stalls of food, souvenirs, and cloths filled the foot paths along the street I traveled. In many places, CDs, VCDs and DVDs of music and movies were being sold. I could easily hear the music played loudly, mixing with laughter and chatter of people enjoying the night. It was no different than Indonesia’s <em>pasar senggol</em> or <em>pasar malam</em>. My memory traveled back home to Yogyakarta.</p>
<div id="attachment_1779" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/jual.jpg"><img class="size-medium wp-image-1779" title="jual" src="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/jual.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Mango for sale</p></div>
<p style="text-align:justify;">I visited HCMC in August 2010 when I was invited to present a paper in a workshop. It was my first time to Vietnam and I enjoyed it very much. I felt like home already even when I was traveling from HCMC airport to the hotel where the workshop was held. The Motorbikes, street food vendors, a lot of people, busy shops, bicycles, and humid warm tropical weather, all reminded me of Indonesia and Yogyakarta, in particular.  It seems to me that HCMC or Vietnam in general is a very vibrant and dynamic place. I am not an economist but I could tell their economy is growing. It was interesting to see red flags of Communist Party of Vietnam standing side by side with western products logos like Donna Karan New York (DKNY), Louis Vuitton of France, FCUK, etc.</p>
<p style="text-align:justify;">In a country with growing economy like Vietnam, those combinations of logos and symbols might not have anything to do with politics and ideology. I, honestly, do not understand. What I know is that HCMC can be a good alternative for vacation. Three young Indonesians that I met during a Mekong River Delta tour told me that they paid only around IDR 600,000 for return flight (Jakarta- HCMC) and spent only around USD 10 per night per person for accommodation. Certainly, not everybody in Indonesia can afford it but the price was undoubtedly tempting for such a journey to Vietnam. With fiscal tax no longer in place and the availability of budget airlines, the question of vacation may be as simple as “Vietnam or Jogja?” and you may answer: “Vietnam because I can discover Jogja there.”</p>
<br />Filed under: <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/australia/'>Australia</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/geodesi-ugm/'>Geodesi UGM</a>, <a href='http://madeandi.wordpress.com/category/lucu/'>lucu</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/madeandi.wordpress.com/1775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/madeandi.wordpress.com/1775/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=madeandi.wordpress.com&amp;blog=1021389&amp;post=1775&amp;subd=madeandi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://madeandi.wordpress.com/2011/10/02/discovering-jogja-in-ho-chi-minh-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f83195a7b707c6842526c44081e727cc?s=96&#38;d=monsterid&#38;r=X" medium="image">
			<media:title type="html">madeandi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/dagang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dagang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/motor.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">motor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://madeandi.files.wordpress.com/2011/10/jual.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jual</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
