September 25, 2009 by Andi Arsana

http://3.bp.blogspot.com
Made Kondang tak banyak paham soal psikologi hubungan mertua dan menantu. Yang pasti diketahuinya, Men Dagdag, tetangganya, dan menantunya sering ribut, bertengkar sampai menghebohkan seisi desa. Agak jauh dari rumahnya, Men Koplar tak beda perangainya dengan mantunya. Urusan uyah lengis tak urung jadi bahan pertengkaran. Sampai-sampai Kondang hampir percaya, mertua dan menantu mungkin memang seharusnya begitu.
Continue Reading »
Posted in Australia, Contemplations, Geodesi UGM | 1 Comment »
September 12, 2009 by Andi Arsana

Hari ini Lita berusia empat tahun. Usia saat mana makhluk manusia sedang menunjukkan apa yang orang Bali sebut sebagai guna. Sedeng meguna, demikian katanya. Lucunya sangat, cantiknya bernilai, senyumnya meluluhkan hati yang penuh amarah. Demikianlah anak di usia empat tahun. Begitulah anak yang sedeng meguna.
Continue Reading »
Posted in Australia, Geodesi UGM, Personal, Renungan | 4 Comments »
September 11, 2009 by Andi Arsana
Hubungan kami sesungguhnya sudah lama. Tidak saja kami berpelukan dan berciuman serta berinteraksi fisik lainnya, ada emosi yang terlibat. Ini yang dinamakan cinta, aku yakin itu. Cinta yang kata orang tak bersyarat.
Ketika Asti tidak ada, aku memanjakannya. Aku jadikan diriku budak atas gagasan-gagasan nakalnya yang liar. Hari Jumat, kami menjadi penguasa rumah karena Asti tidak ada. Dapur, kamar mandi, kamar dan ruang tamu menjadi ajang eksplorasi kreativitas dan kenakalannya. [bersambung]…
Posted in Contemplations, Geodesi UGM, Personal, Renungan | 1 Comment »
September 7, 2009 by Andi Arsana
Asti sudah lenyap sejak jam 6 pagi saat hari masih berkabut dan dingin seperti tak kenal belas kasihan. Aku mendapati diri hanya berdua dengannya. Dia masih terkulai lemas di sofa, masih dengan selimut oranye dan bantal putih berbunga merah menyala. Matanya sayu dan nampak malas.
Setelah merayunya, akhirnya dia menuruti keinginanku. Berjalan ia menuju kamar mandi lalu diangkatnya tangannya menyerahkan diri sepenuhnya. Aku melukari pakaiannya satu persatu dengan perlahan. Inilah ritual hampir setiap pagi ketika Asti tidak ada dan tidak melihat kami… [bersambung]
Posted in Geodesi UGM, Personal | 5 Comments »
September 7, 2009 by Andi Arsana

fineartamerica.com
Kadang orang bisa kehabisan kata untuk menuturkan sesuatu yang sesungguhnya hebat tetapi terjadi berulang-ulang dan menjadi rutinitas. Di saat Tukul muncul dengan gaya khasnya di Empat Mata, hampir semua orang berbicara tentangnya. Saat stasiun televisi memutuskan untuk menayangkan Empat Mata setiap hari, lambat laun orang menjadi kehilangan gairahnya. Hampir tidak ada lagi kejutan, hampir tidak ada lagi sesuatu yang baru, meskipun sebenarnya Tukul tetaplah lucu. Sesuatu yang menjadi rutinitas kadang bisa menimbulkan kebosanan, betapapun hebatnya.
Tujuh September tahun ini tepat duabelas tahun lalu saya bertemu Asti untuk pertama kalinya. Sebagai anak muda yang dilanda cinta ketika itu kami biasa memperingati hari penting ini bahkan hampir setiap bulan
Kini, ketika cinta beranjak dewasa, saat pelukan bukan lagi sesuatu yang layak disembunyikan dan saat bercinta bukan lagi sebuah larangan, kadang kami lupa. Lupa dengan gairah lama, karena rutinitas yang mendesak. Mungkin terlalu sedikit waktu tersedia untuk saling memuji, cinta dan kemesraan juga diinvasi oleh kewajiban-kewajiban teknis memandikan Lita, menyuapi makannya, mengantar sekolah, masak, nyuci, bersih-bersih rumah.
Continue Reading »
Posted in Australia, Contemplations, Personal, Renungan | 1 Comment »
September 6, 2009 by Andi Arsana

ytimg.com
Sabtu malam, Asti sudah terlelap di sampingku yang masih terjaga. Kulihat lampu di ruang tamu nampak temaram. Samar-samar terdengar suara percakapan dari sebuah film di TV. Aku tahu, masih ada seorang perempuan yang menikmati acara TV di luar sana. Aku bangun hati-hati, Asti tak terjaga. Tanpa takut membuat gaduh, aku jalan ke luar ruangan tanpa perlu berjingkat. Aku yakin Asti tidak akan bangun.
Continue Reading »
Posted in Geodesi UGM, Personal, Renungan | 2 Comments »
September 6, 2009 by Andi Arsana

vivanews.com
Hari Jumat jam 3 sore, tidak seperti biasa, Asti, istriku, sudah pulang kerja. Langkah-langkah yang sedikit terburu dengan hentakan sepatu menginjak tangga terdengar hingga ke dalam rumah. Kami berdua yang masih di kamar menyadari hal ini. Dia menarik tubuhku dengan wajah panik dan mengajakku bersembunyi di balik selimut. “Let’s hide!” katanya.
Continue Reading »
Posted in Geodesi UGM, Personal | Leave a Comment »
September 3, 2009 by Andi Arsana

istanakunang.wordpress.com/
Paduka Pangeran,
Ijinkan hamba menyampaikan secarik kertas ini yang bertuliskan kata-kata sederhana. Kalimat-kalimat ini bukanlah sloka para pujangga yang akan membuai hati paduka yang sedang lara. Dia juga bukanlah mantra-mantra sakti mandraguna yang serta merta mencipta semburat senyum di wajah paduka yang telah lama dirundung nestapa. Untaian kalimat itu bukan obat yang diperolah baginda raja dari hasil bertapa di bawah pohon jakaranda. Dia tidak mengobati seketika.
Continue Reading »
Posted in Contemplations, Geodesi UGM, Personal, Renungan | 6 Comments »
August 20, 2009 by Andi Arsana
Made Kondang, lelaki berotak desa itu tak henti-hentinya dirundung bingung. Dasar otaknya yang mungkin hanya separuh volume otak teman-temannya, tak banyak perkara yang mampu dia cerna dengan seksama. Kali ini adalah perihal awig-awig, aturan adat di Banjar Selem, banjar tetangganya.
Continue Reading »
Posted in Contemplations, Geodesi UGM | 1 Comment »
August 17, 2009 by Andi Arsana

Beyond Borders
Yogyakarta, Agustus 1996
Saya sedang terjebak dalam dunia sempit saya, tidak peduli pada sekitar karena sedang punya karya yang menyenangkan. Dua kawan dekat saya datang menghampiri dan hampir tidak saya ketahui. Mereka heran bertanya, apa yang sedang saya lakukan. Di tangan saya ada setumpuk kertas minyak tembus pandang, warnanya merah, ada juga yang putih. Potongannya kecil kurus menjuntai seperti rumbai-rumbai. Sementara itu di sebelahnya terdapat tumpukan kertas merah dan putih yang sama, namun dengan potongan yang berpola. Di sebelahnya lagi terongok sekaleng lem kertas yang tutupnya terbuka. Mereka tidak mengerti apa yang akan saya lakukan dengan perangkat dan bahan itu.
Continue Reading »
Posted in Contemplations, Geodesi UGM, Personal, Renungan | Leave a Comment »